JUsT LeArN 'n LEaRn… fRoM Now On 'tiL ThE eNd..

Februari 10, 2010

Iman dan Cabang-Cabangnya

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 8:56 am

Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh. Iman itu bercabang-cabang dan bertingkat-tingkat. Diantaranya jika ditinggalkan dapat menjadikan kafir, ada pula yang menyebabkannya berdosa, baik dosa besar maupun kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan akan kehilangan ganjaran dan pahala.

Iman itu akan bertambah dengan ketaatan hingga dapat mencapai kesempurnaannya dan akan berkurang dengan kemaksiatan hingga bisa hilang sama sekali, tak tersisa sedikitpun.

Syaikhul Islam menyatakan, “Pokok keimanan itu di dalam hati, dan Iman itu adalah ucapan hati dan amalannya yang ditetapkan dengan pembenaran, kecintaan dan ketundukan. Keimanan yang bersemayam di dalam hati harus menampakkan konsekuensi dan kebutuhannya terhadap anggota tubuh. Jika tidak melaksanakan konsekuensi dan kebutuhannya, menunjukkan ketiadaan atau kelemahan iman.

Oleh karena itu, amalan lahir merupakan konsekuensi dan kebutuhan iman yang menunjukkan pembenaran terhadap apa yang ada di dalam hati, sebagai dalil (petunjuk) dan syahid (saksi) atasnya. Amalan lahir juga merupakan cabang dari kumpulan keimanan yang mutlak serta merupakan bagian darinya. Akan tetapi yang bersemayam di dalam hatilah yang merupakan pokok dari amal perbuatan anggota tubuh.”

“Iman itu ada 70 cabang lebih, paling tingginya adalah ucapan laa ilaaha illallah dan paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan di jalan, dan sifat malu merupakan cabang dari iman”.(terjemah Hadits Riwayat Imam Muslim no.35,58)
Asyrof (1998) menyatakan:
Sekelompok ulama memaksakan diri untuk menghitung cabang-cabang iman dengan cara ijtihad. Secara hukum hal ini adalah suatu kehendak yang sulit, maka tidak tercela orang yang tidak mengetahui secara terperinci tentang berapa batasan cabang keimanan ini. Pun tidak ada kesepakatan para ulama sehubungan dengan rincian tersebut.
Pendapat yang paling mendekati kebenaran tentang rincian keimanan dan cabang-cabangnya adalah sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Hibban, namun kami tidak mencukupkan dengan keterangan dari pendapat beliau, berikut kami ringkas apa yang mereka sebutkan.

Beliau menyatakan:
Cabang-cabang iman terbagi menjadi 3 cabang:
1.amalan hati
2.amalan lisan
3.amalan badan/ anggota tubuh
Tiga cabang ini terbagi menjadi beberapa cabang lagi.

Cabang iman dari amalan-amalan yang berhubungan dengan hati: adalah berkaitan dengan keyakinan-keyakinan (aqidah-aqidah) dan niat, mencakupi 24 macam.
1.Iman kepada Allah, termasuk: iman terhadap Dzat Allah, sifat-sifat Allah, tauhid/mengesakan Allah bahwa Dialah Dzat dimana tidak ada satupun yang menyerupai-Nya dan meyakini bahwa selain Allah adalah ciptaan-Nya.
2.Beriman kepada malaikat Allah
3.Beriman kepada kitab-kitab Allah
4.Beriman kepada rosul-rosul Allah
5.Beriman terhadap taqdir Allah yang baik maupun yang buruk
6.Beriman terhadap hari kiamat, termasuk: pertanyaan malaikat di dalam kubur, adanya hari kebangkitan, hari perhitungan/pembalasan, adanya timbangan amalan, jembatan di atas neraka, beriman terhadap adanya surga dan neraka.
7.Cinta kepada Allah
8.Cinta dan benci karena Allah
9.Cinta kepada Rosulullah disertai keyakinan untuk mengagungkan beliau sesuai kedudukan beliau, termasuk bersholawat atas beliau dan mengikuti sunnah beliau.
10.Ikhlash, termasuk: meninggalkan riya’ (beramal untuk dilihat orang) dan nifaq (sifat munafiq)
11.Taubat
12.Takut akan adzab Allah
13.Mengharap ridha dan pahala dari Allah
14.Syukur kepada Allah
15.Memenuhi janji untuk taat kepada Allah dan yang lainnya.
16.Sabar
17.Redha terhadap ketentuan Allah / takdir Allah.
18.Tawakal kepada Allah
19.Kasih sayang
20.Tawadhu’ hormat kepada yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda.
21.Meninggalkan perangai sombong dan ujub (ingin dipuji)
22.Meninggalkan dengki
23.Meninggalkan perangai marah

Amalan lisan, mencakupi 7 macam iaitu:
1.Melafadzkan kalimat tauhid laa ilaaha illallah
2.Membaca Al-Quran
3.Menuntut ilmu
4.Mengajarkan ilmu
5.Berdoa
6.Berdzikir termasuk istighfar
7.Menjauhi perkara-perkara yang tidak bermanfaat/senda gurau.

Amalan badan/anggota tubuh, mencakup 38 macam:
Amalan badan yang berkaitan dengan individu/ pribadi:
1.Mensucikan diri secara lahir maupun hukum. Termasuk: menjauhi perkara-perkara najis.
2.Menutup aurat.
3.Shalat wajib dan sunat
4.Zakat.
5.Berbuat baik terhadap karib/ keluarga dekat.
6.Derma, termasuk: memberi makan orang lain atau memuliakan tamu.
7.Puasa wajib dan sunat
8.Haji dan umrah
9.Thawaf
10.I’tikaf
11.Berusaha/ mencari mendapatkan malam lailatul qadar.
12.Hijrah kerana ajaran agama, termasuk hijrah dari kampung kesyirikan menuju kampung yang muslim.
13.Memenuhi nadzar.
14.Berupaya untuk meraih tingkatan-tingkatan iman.
15.Membayar kafarat/denda

Amalan badan yang berhubungan dengan ittiba’/mencontoh Rasulullah ada 6 macam:
1.Berupaya untuk menikah
2.Melaksanakan hak-hak keluarga (isteri, anak dan lainnya)
3.Berbakti kepada orang tua termasuk: tidak boleh durhaka kepada orang tua
4.Mendidik anak-anak
5.Menyambung tali kekerabatan/silaturrahmi
6.Taat kepada pemimpin
7.Berlemah lembut kepada orang lain

Amalan badan yang berhubungan dengan kemasyarakatan, ada 17 macam:
1.Menegakkan kepemimpinan yang adil.
2.Mengikuti al-jama’ah/kebenaran.
3.Taat kepada pemerintah muslim.
4.Mendamaikan antara pihak yang bertikai atau sebagai mediator untuk perdamaian, termasuk: memerangi Khawarij dan para pemberontak.
5.Tolong-menolong dalam hal yang baik, termasuk: amar-ma’ruf nahi mungkar.
6.Menegakkan hudud atau hukum-hukum Allah.
7.Jihad, termasuk berjaga-jaga di perbatasan musuh.
8.Menyampaikan amanat yang dibebankan kepadanya, di antaranya: membagikan 1/5 dari harta rampasan perang.
9.Pinjam meminjami dengan orang lain.
10.Membantu memuliakan tetangga.
11.Berbuat baik dalam bermu’amalah, termasuk: mengumpulkan harta yang halal.
12.Menginfakkan harta kepada yang berhak menerima, termasuk: tidak boleh berlebih-lebihan dalam berinfak yang bukan karena Allah.
13.Menjawab salam.
14.Mendoakan orang bersin.
15.Menolak gangguan dari orang lain.
16.Menjauhi hal-hal yang tidak ada manfaatnya.
17.Menyingkirkan duri dari jalan.

Keseluruhan jumlahnya adalah 69 cabang iman, bisa juga dihitung menjadi 79 kalau bagian-bagiannya dimasukkan pula.” Wallahu a’lam. (Fathul Bari 1/ 52-53)

Daftar Pustaka:
Perkara Keimanan yang Global dari Pokok-Pokok Aqidah Salafiyyah.Penyusun: Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah, Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr, Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly, Syaikh Ali bin Hasan al-Halaby al-Atsary, Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman. Diperiksa dan Disepakati oleh: Sejumlah Ulama dan Penuntut Ilmu. Diterbitkan oleh: Markaz Imam Albany Divisi Pengajaran Manhaj dan Riset Ilmiah Amman – Yordania 1421 H./2000 M. Dialihbahasakan oleh: Abu Salma bin Burhan al-Atsary. Dikoreksi oleh: Ust. Abu ‘Athiyyah, Lc., M.Ag. Disebarkan oleh :Lajnah Da’wah dan Ta’lim FSMS (Forum Silaturrahim Mahasiswa as-Sunnah) Surabaya.

At-Taudhihu wa Al-Bayanu li Syajarati Al-Imani, Tafsiruhu…Ushuluhu wa mawaduhu min Ayyi Syai-in Yustamadu Fawa-iduhu wa Tsamaratuhu. Penulis: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penyusun: Abu Muhammad Asyrof bin Abdul Maqsud. Penerbit: Adhwa-us Salaf 1419 H/ 1998 M. Edisi Indonesia: Manisnya Buah Keimanan. Penerjemah: Ahmad Khodimul Hannan. Murajaah: Ustadz Usamah Faishal Mahri. Penerbit: Cahaya Tauhid Press, 2004.

Ehsan : Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly, dkk, 2000

Februari 8, 2010

Janganlah kamu berdo’a buruk terhadap dirimu,..

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 9:03 am

Allah melarang do’a kejelekan bagi orang yang berdo’a dan orang lain sekalipun seorang bapak atau ibu yang mendo’akan kejelekan kepada anaknya sewaktu marah, karena Rasulullah mengkhawatirkan do’a itu bertepatan dengan waktu dimana pada saat itu Allah menerima atau mengabulkan do’a dari hamba-Nya, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Janganlah kamu berdo’a buruk terhadap dirimu, begitupun terhadap anak-anakmu, dan terhadap harta bendamu. Jangan sampai nanti do’amu itu bertepatan dengan suatu saat dimana Allah sedang memenuhi permohonan, hingga do’a burukmu itu benar-benar terkabul”. [HR Muslim].

Beberapa Waktu yang memiliki Keutamaan dalam Berdo’a

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 8:34 am

Selain itu ada beberapa waktu yang di dalamnya memiliki keutamaan untuk berdo’a, diantaranya:
• Antara adzan dan iqamat
“Do’a yang diucapkan antara adzan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah)”. [HR. Ahmad]
• Sepertiga terakhir dari malam hari
Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah ‘Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : “Adakah orang yang berdo’a kepada-Ku akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa-dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?” Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). [HR. Ahmad]
• Akhir Shalat Fardhu
Rasulullah SAW ditanya, “Pada waktu apa do’a (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam).” [Mashabih Assunnah]
• Hari Jum’at
“Pada hari Jum’at terdapat saat yang apabila seorang muslim memohon kepada Allah sesuatu kebaikan maka Allah akan memberinya, yaitu saat antara duduknya seorang imam (Khatib) sampai usainya shalat.” [HR. Muslim]
• Sedang di zhalimi, dan sebagainya
“Hati-hatilah terhadap do’a orang-orang yang dizhalimi, karena sesungguhnya antara do’anya dan Allah tidak ada hijab yang menghalangi” [al-Hadits].

“Tiga macam do’a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do’a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik)”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud]

Hendaklah memulai do’a dengan memuji Rabbnya

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 8:32 am

Diriwayatkan dari Fadhalah bin ‘Ubaid r.a.: Rasulullah SAW mendengar seorang laki-laki berdo’a dalam shalatnya tanpa mengagungkan Allah SWT dan tanpa bershalawat kepada Nabi SAW. Maka berkatalah Rasulullah SAW:” Orang ini terlalu tergesa-gesa”. Kemudian beliau memanggil laki-laki itu dan berkata kepadanya, atau kepada orang lainnya: ‘Jika salah seorang diantaramu berd’oa, hendaklah ia memulainya dengan memuji Tuhannya Yang Mahasuci, kemudian bershalawat kepada Nabi, setelah itu silahkan dia berdo’a apa saja yang dikehendakinya.” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dia berkata: Hadis ini Hasan Shahih].

Februari 5, 2010

Makkiyah dan Madaniyah

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 7:02 am

Dari keterangan para sahabat Nabi dan tabi’in,dapatlah diketahui tanda-tanda dari surah-surah majiyah ataupun madaniyah.

Tanda-tanda surah makiyah.
Sesuatu surah/ayat adalah makiyah,kalau surah/ayat itu mempunyai tanda-tanda,sebagai berikut :
1) Dimulai dengan nida’(panggilan):”Yaa Ayyuhan Naasu” dan sebangsanya.
Dalam seluruh AlQuran,bentuk nida’ tersebut ada 292 ayat, atau 292/6236 x 100%=4,68%
2) Di dalamnya terdapat lafal: “KALLA”. Lafal tersebut terdapat dalam seluruh AlQuran ada 33x dalam 25 surah-surah di bagian akhir mushaf Utsman.
3) Didalamnya terdapat ayat-ayat sajdah (disunahkan bersujud tilawah jika membacanya) didalam AlQuran ada 15 ayat Sajdah.
4) Dipermulaannya terdapat huruf-huruf tahajji(huruf yang terpotong) Contoh : nuun..yaasiin..thaha..
5) Didalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat-umat terdahulu,selain surah Al-Baqarah dan Al-Maidah.contohnya,antara lain seperti surah Yunus, Yusuf, Hud, Ibrahim, Al-Kahfi, Maryam, Thaha dsb.
6) Didalamnya berisi cerita-cerita terhadap kemusyrikan dan penyembahan-penyembahan terhadap selain Allah SWT.
7) Didalamnya berisi keterangan-keterangan adat kebiasaan orang-orang kafir dan musyrik yang suka mencuri, merampok, membunuh, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan sebagainya.
8) Didalamnya berisi penjelasan dengan bukti-bukti argumentasi dari alam ciptaan Allah SWT yang dapat menyadarkan orang2 kafir untuk beriman kepada tuhan Allah SWT dan percaya kepada Rasul dan kitab2 suci, hari kiamat, dsb
9) Berisi ajaran prinsip2 akhlak yang mulia dan pranata sosial yang tinggi,yang dijelaskan dengan sangat mengagumkan sehingga menyebabkan orang2 benci kepada kekafiran,kemusyrikan,kefasikan,kekasaran,dsb. Dan sebaliknya,menarik orang untuk beriman, taat, setia, kasih sayang, ikhlas, hormat, rendah hati dsb.
10) Berisi nasihat2 petunjuk dan ibarat2 dari balik cerita yang dapat menyadarkan bahwa kekafiran,kedurhakaan dan pembangkangan umat itu hanya mengakibatkan kehancuran dan kesengsaraan saja.
11) Berisi ayat-koperasi nida’(panggilan)yang ditujukan kepada penduduk mekkah atau orang-orang kafir,musyrik,dsb. Dengan ungkapan:”Yaa Ayyuhan Naasu” atau “Yaa Ayyuhal Kaafiruuna” atau “Yaa Banii Aadama”
12) Kebanyakan surah/ayat2nya pendek-pendek. Karena menggunakan bentuk iijaaz(singkat-padat), Bentuk tersebut ditujukan kepada orang2 Quraisy Mekkah yang umumnya pakar bahasa Arab.

Tanda-tanda surah Madaniyah.
Tanda–tanda dari madaniyah ini banyak.antara lain sebagai berikut:
1. Bila di dalamnya berisi hukum-hukum/ hudud pidana,seperti tindak pidana pencurian, perampokan, pembunuhan, penyarangan, perzinaan, kemurtadan, dan tuduhan zina.contohnya seperti surah Al-baqarah, An-Nisa, Al-Maidah, Asy-syura,dsb.
2. Di dalamnya berisi hukum2 faraid(waris-mewaris),baik warisan bagi dzawil furudh,dzawil arham atau dzawil ‘ashabah.
3. Berisi izin jihad fi sabilillah dan hukum2nya.
4. Berisi keterangan mengenai orang2 munafiq dan sifat2 serta perbuatannya,kecuali surah AL-Ankabu.
5. Berisi hukum2 ibadah,seperti hukum salat,zakat,puasa,haji.dsb.
6. Berisi hukum2 muamalah,seperti jual-beli,sewa-menyewa,gadai,utang-piutang,dsb.
7. Berisi hukum2 munakahat,baik mengenai nikah,talak,atau mengenai hadhanah(pemeliharaan anak)
8. Berisi hukum2 kemasyarakatan,kenegaraan,seperti soal permusyawaratan,kedisiplinan,kepemimpinan,pendidikan,pergaulan dsb.
9. Berisi dakwah(seruan)kepada orang2 yahudi dan nasrani serta penjelasan akidah2 mereka yang menyimpang.
10. Berisi ayat2 nida’(panggilan)yang ditujukan kepada penduduk madinah yang islam,dan khithab(seruan):”Yaa Ayyuhal ladziina Aamanu,”yang dalam Alquran ada 219 ayat atau 219/6236×100%=3,51%.
11. Kebanyakan surah/ayat2nya panjang2. Sebab ditujukan kepada penduduk Madinah yang orang2nya banyak yang kurang terpelajar. Sehingga perlu dengan ungkapan yang luas agar jelas.

(di nuqil dari ULUMUL QURAN.By Prof.Dr.H.Abdul Djalal H.A.)

Pandanglah orang yang lebih rendah daripada kalian..

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 5:44 am

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ

هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Pandanglah orang yang lebih rendah daripada kalian, dan janganlah memandang orang yang di atas kalian. Maka yang demikian itu lebih layak untuk dilakukan agar kalian tidak menganggap remeh akan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (HR Muslim)

Sabar dan biarlah Allah menentukan kemenangan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 5:42 am

Dari Khabab bin Al-Arat ia berkata: ”Kami mengeluh di hadapan Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam saat beliau sedang bersandar di Ka’bah.

Kami berkata kepadanya: ”Apakah engkau tidak memohonkan pertolongan bagi kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?” Beliau bersabda: ”Dahulu seorang lelaki ditanam badannya ke dalam bumi lalu gergaji diletakkan di atas kepalanya dan dibelah menjadi dua namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Dan disisir dengan sisir besi sehingga terkelupaslah daging dan kulitnya sehingga tampaklah tulangnya namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, urusan ini akan disempurnakan Allah sehingga seorang penunggang kuda akan berkelana dari San’aa ke Hadramaut tidak takut apapun selain Allah atau srigala menerkam dombanya, akan tetapi kalian tergesa-gesa!” (HR Bukhary 3343)

Sedemikian rupa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menekankan perlunya bersabar sehingga beliau mengingatkan sahabat Khabab bin Al-Arat akan pengalaman jauh lebih pahit kaum mukminin generasi terdahulu.

Padahal sahabat Khabab bukanlah sahabat yang tidak mengalami derita dalam mempertahankan iman Tauhidnya. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab beliau hadir dalam suatu majelis dimana Umar menyuruh masing-masing sahabat Muhajirin menceritakan pengalaman dan pengorbanan sewaktu masa jahiliyyah berjuang di Mekkah untuk menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Masing-masing menceritakan pengalamannya. Begitu tiba giliran Khabab beliau langsung membuka bajunya dan memperlihatkan punggungnya kepada jamaah majelis. Betapa terkejutnya mereka melihat punggungnya yang dipenuhi lubang-lubang berwarna hitam sebesar bola kasti. Umar menanyakan apa yang telah terjadi. Maka Khabab berkata: ”Aku dulu disiksa dengan cara disuruh berbaring terlentang di atas tumpukan batu yang telah dibakar sehingga aku bisa mencium bau dagingku terbakar seperti bau sate panggang!”

-uks eramuslim-

Februari 4, 2010

Nabi saw tidak suka tidur sebelum Isya’ dan mengobrol setelahnya

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 2:08 am

Aisyah ra berkata: “Tidak boleh begadang kecuali untuk tiga hal: Orang yang sholat, pengantin atau musafir.”

“Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya…”. (QS. Al-Naml: 86)

Dari Abi Barzah Al-Aslami ra bahwa Nabi saw bersabda: “Tidak akan melangkah dua kaki seorang hamba sehingga Allah akan bertanya kepadanya tentang umurnya di manakah dia pergunakan, tentang ilmunya apakah yang dikerjakan dengannya, tentang hartanya dari manakah dia mendapatkannya dan kemanakah disalurkan dan tentang jasadnya untuk apakah dia menghabiskannya”. [Sunan Tirmidzi: 4/612 no: 2417]

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [QS. Al-Dzariyat: 18]

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. “ [QS. Al-Sajdah: 16]

Dari Sahl bin Sa’d ra berkata: Jibril mendatangi Nabi saw dan berkata: “Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau mesti mati, dan beramallah sekehendakmu sebab engkau pasti akan dibalas, cintailah siapapun yang engkau kehendaki namun engkau pasti akan meninggalkannya dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin ada pada qiyamul lail dan ketinggiannya pada ketidakbutuhannya kepada manusia.”

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” [QS. Maryam: 59]

”…dan (dirikanlah pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [ QS. Al-Isro’: 78 ]

Dari Jundub bin Abdullah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada di dalam jaminan Allah, maka jangan sampai salah seorang di antara kalian dituntut oleh Allah dengan sesuatu yang merupakan jaminan-Nya. Sesungguhnya orang yang dituntut oleh Allah dengan sesuatu yang merupakan jaminan-Nya maka dia pasti mendapatkan akibatnya, kemudian Dia akan mencampakkannya ke dalam neraka Jahannam”.

Dari Umaroh bin Rubiyah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Tidak akan masuk neraka orang yang shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya”. Maksudnya adalah shalat fajar dan shalat Asar. [dalam Shahih Muslim: 1/440 no: 634]

Dari Abi Barzah Al-Aslami ra bahwa Nabi saw tidak suka tidur sebelum Isya’ dan mengobrol setelahnya. [ Shahih Bukhari: 1/195 no: 568] . Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Sebab tidur sebelum Isya’ bisa mengakibatkan seseorang terlambat shalat sehingga keluar waktunya, atau terlambat sampai waktu ikhtiar dan berjaga setelahnya bisa menyebabkan tertidur hingga terlambat melaksanakan shalat Subuh, atau menyebabkan keterlambatan sampai pada waktu ikhtiar atau terlambat dari qiyamul lail.”

Bahkan Umar Ibnul Khattab ra pernah memukul orang yang suka begadang seraya mengingatkan, ”Apakah kalian berjaga pada waktu awal malam dan tidur pada bagian terakhirnya?” [Shahih Bukhari: 1/195 no: 568]

-hidayatullah-

Februari 3, 2010

Itulah yang terbaik

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 3:43 am

Dikisahkan di sebuah negri terdapat kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang sangat cerdas. Di tangannyalah kerjaan itu berjaya, dan negri itupun menjadi negri yang sangat makmur. Rakyatnyapun hidup rukun.

Kecerdasan sang raja sudah dikenal oleh semua orang, bahkan di negri-negri lain, tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa raja tidak sendirian dalam mengembangkan kerajaan itu, dia didampingi oleh seorang penasehat yang sangat bijak. Raja selalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada penasehat. Sedih, bahagia, besar, sampai hal-hal sepelepun diceritakan kepada penasehatnya.
Penasehat selalu menjalankan fungsinya dengan baik. Dia menjadi tempat curhat terbaik raja karena dia selalu menjaga kerahasiaan cerita-cerita tuannya. Dia juga selalu memberi pendapat yang luar biasa kepada rajanya, yaitu “Itulah yang terbaik,Tuanku.” Hanya itu yang diucapkan kepada raja setiap kali raja bercerita.

Suatu pagi, jari sang raja terpotong saat sedang membuat tombak yang akan digunakan untuk berburu bersama penasehat dan beberapa pasukannya, dan rajapun langsung menemui penasehat untuk menceritakan hal itu. Lagi, penasehat hanya berkata “Itulah yang terbaik, Tuanku.” Untuk pertama kalinya raja sangat marah kepada penasehat atas ucapannya tersebut, dan rajapun memerintahkan anak buahnya untuk memenjarakan si penasehat.

Malam tiba…raja dan beberapa orang pasukannya pergi berburu ke hutan negri tetangga. Di luar dugaan sang raja, di dalam hutan raja beserta pasukannya bertemu dengan penduduk asli hutan tersebut. Penduduk primitif yang sangat mengerikan. Mereka memakan daging manusia. Di luar dugaan pula, rombongan sang raja ditaklukkan oleh penduduk hutan tersebut. Semua rombongan raja ditangkap, termasuk sang raja.
Pada saat rombongan raja akan dikuliti oleh penduduk hutan, kepala sukuny memeriksa “hasil tangkapan” mereka. Satu persatu dipriksa kemudian dikuliti. Saat giliran raja, kepala sukunya berkata “Orang ini cacat, jarinya tidak lengkap seperti yang lain. Buang saja, jangan sampai kita makan daging yang membawa penyakit.” Dan rajapun dibebaskan.

Raja spontan berlari…kembali ke kerajaannya. Dia terus berlari sekuat tenaga…sambil menangis. Hanya satu hal yang ada di pikirannya, yaitu si penasehat.
Sesampainya di kerajaan, dia langsung ke penjara untuk membebaskan penasehatnya. Raja memeluk penasehat sambil menangis..”Maafkan aku penasehat karena telah memenjarakanmu atas kebenaran ucapanmu. Inilah yang terbaik…aku tau sekarang…inilah yang terbaik.”
Dan pensehatpun juga menangis sambil memeluk rajanya…”Terima kasih, Tuanku…kau telah memenjarakanku. Apa jadinya aku kalau aku ikut berburu bersamamu.”

Februari 2, 2010

Perdebatan dalam hal-hal yang tidak berguna (jidal)

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 1:52 pm

Islam mengenal istilah jidal. Para ulama menafsirkannya dengan perdebatan dalam hal-hal yang tidak berguna atau tidak bermanfaat. Jidal adalah termasuk dalam perdebatan yang dilarang adalah semua perdebatan yang menyebabkan kegaduhan, mudharat kepada orang lain atau mengurangi ketentraman. Sementara perdebatan yang baik dan masih diperbolehkan adalah perdebatan untuk menjelaskan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan Muslim [2668]).

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448]).

Diriwayatkan dari Abu Ustman an-Nahdi, dalam sebuah hadist lain, ia berkata, “Aku duduk di bawah mimbar Umar, saat itu beliau sedang menyampaikan khutbah kepada manusia. Ia berkata dalam khutbahnya, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, perkara yang sangat aku takutkan atas ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah’.” [HR Ahmad]

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.