JUsT LeArN 'n LEaRn… fRoM Now On 'N 'tiLL ThE eNd..

November 8, 2009

Menimbang amal

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 9:23 am

Beramal dalam lingkup Islam yang dilakukan oleh seorang muslim bisa masuk kategori ibadah. Dan amal itu merupakan realisasi dari ayat Allah (yang artinya):

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. (adz Dzariyat : 56).

Makna beribadah di atas bisa berarti luas, baik itu ibadah dalam artian mahdhah (ritual) maupun dalam artian ibadah yang umum. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah bahwa ibadah itu ialah segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya baik itu berupa perkataan maupun perbuatan yang dilakukan dengan hati maupun dengan anggota badan (Ismun jaami’un li kulli maa yuhibbuhullah wa yardhahu minal aqwali wal af’ali adh dhahirah wal bathinah). Apapun bentuk ibadahnya tidak boleh keluar dari syarat pokok, yaitu sesuai dengan syari’at dan ikhlash karena Allah.

Ini merupakan realisasi dari pernyataan dua kalimat syahadat. Asyhadu alla illaha illallah yang mengandung makna
bahwasanya segala bentuk sesembahan itu hanya boleh ditujukan kepada Allah dan hanya karena Allah, dan Asyhadu anna Muhammadar rasulullah yang mengandung makna bahwa segala aktivitas ibadah itu harus dibangun diatas syari’at Allah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

IMAM Al Jawi Al Atsary
ukhwah[dot]com

Innalhamdalillah..

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 5:37 am

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah wa-asy-hadu allaa ilaaha illallaahu wah-dahu laa syariikalah wa-asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan ampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi hanya Allah saja yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan dan RasulNya

Praktik Tarbiyah Hasan Al Banna kepada Anak-anaknya

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — upikjoe @ 5:33 am

Praktik Tarbiyah Hasan Al Banna kepada Anak-anaknya

Adanya visi yang benar dan kemampuan aplikasi sikap yang baik, adalah syarat utama dalam pentarbiyahankeluarga. Imam Hasan Al Banna memiliki visi yang jelas dan mulia, sehingga itu juga yang menjadikannya secara sadar menjalani berbagai aktivitas hidupnya. Diantara bagaimana Imam Hasan Al Banna mendidik anak-anak dan istrinya, yaitu:

• Makan bersama yang menjadi prioritas

• Tak ada suara keras di rumah

• Bangunkan aku tujuh menit lagi (kemampuannya mengatur dirinya dan selalu disiplin terhadap dirinya sendiri )

• Melakukan perencanaan yang baik untuk semua anak-anaknya dengan setiap anak memiliki catatan yang khusus tentang anak-anaknya seditail mungkin (contohnya, tanggal dan sejarah kelahiran, jadwal pemberian obat dan surat keterangan dokter tentang kondisi sakit anak secara detail, ijazah, catatan seputar prestasi anak di sekolah, dll)

• Membawakan bekal ke sekolah (untuk anaknya Roja yang sering lupa membawa roti untuk makan pagi)

• Memenuhi kebutuhan rumah setiap bulan bahkan untuk makanan yang hanya ada pada musim-misim tertentu

• Anak-anak menuruti tanpa harus diperintah (ketulusan cinta dan memelihara perasaan anak-anak yang berbuah wibawa indah di mata anak-anaknya)

• Ada uang jajanan harian, mingguan, dan bulanan

• Mengirim mata-mata apakah uang yang diberikanya untuk diinfaqkan telah dilakukan oleh anak-anaknya atau tidak sehinnga ia merasa tenang dengan penggunaan uang yang dipercayakan

• Nilai hidup ini ada pada keimanan (melatih anak-anaknya untuk belajar memenej kehidupan, bagaimana menciptakan kesuksesan agar mereka tidak terhempas oleh topan kegagalan dan kesiasian setelah kepergian orang tua)

• Menasehati tidak secara langsung ketika anaknya, Saiful Islam menyukai baca komik dengan mengarahkan secara tidak langsung agar apa yang dilakukan oleh anak-anaknya tumbuh dari diri sendiri, bukan dari perintah ataupun tekanan siapapun

• Menyemai cinta dengan contoh langsung

• ”Aku mulai membaca dari ayat ini …” membina melalui metode tidak langsung, yaitu metode menyampaikan tanpa meminta

• Berinteraksi secara wajar dengan lingkungan (membolehkan ikut wisata sekolah dan berinteraksi secara wajar dengan tetangga dan lingkungan rumah)

• Keterlibatan yang bijaksana (ketika Wafa mulai memakai jilban dan salah seorang guru mereka tidak menyetujuinya)

• Sekretaris pribadi ayah (Wafa yang ditugaskan seperti layaknya sekretaris yang turut hadir bersama ayah dalam pertemuan-pertemuan informal dengan para akhwat untuk mendiskusikan sejumlah masalah)

• Setiap anak mempunyai rak-rak buku dan memberikan uang untuk membeli buku yang disukai anak-anaknya

• Menemani anak-anaknya saat bermain dan liburan sekolah

• Berupaya selalu menyenangkan hati anak, menenangkannya, mencerahkan pikirannya, menyisipkan kebahagiaan dalam hati mereka

• Membiarkan Saiful Islam membaca dan menghabisi buku komik

• Menyodorkan kesepakatan tentang memuliakan tamu masing-masing

• Tidak memaksa untuk melakukan sesuatu, tapi mengarahkan dengan cara yang tepat (Tsana tidak naik kelas karena kesalahannya sendiri)

• Memberikan reward dan punishment ( Saiful Islam dijewer telinganya dan Tsana dipukul telapak kakinya karena tidak memakai sendal)

• Kehangatan pelukan sang ayah (ketika Saiful Islam sudah mulai dewasa dan menanyakan sesuatu)

• Menyadarkan anak perempuan dengan peran keperempuanannya

• Pasangan yang romantis dan harmonis ( tidak membangunkan istri ketika pulang larut malam dan menyediakan sendiri makan malam baik untuk sendiri maupun untuk rekan-rekannya)

• Menanamkan solidaritas dengan kondisi dunia Islam ( melarang membuat kue untuk menyambut hari raya karena ada dua belas kader ikhwan yang gugur di Paleatina)

• Tidak memarahi ketika Saiful Islam mengambil berkas-berkas pentingnya

• Teman belajar dan berdiskusi

• Memberikan arahan ”Jangan menganggap ayahmu bermanfaat untukmu di akhirat kelak”

• Menunaikan hak-hak keluarga dengan sangat baik (tidak meremehkan salah satu pun anggota keluarga dan ketika dalam perjalanan, saat bekerja, saat berdakwah tidak ada di rumah, telah menyiapkan dan mengatur semua urusan keluarganya dengan baik)
-”Cinta di rumah Hasan AlBanna” Muhammad Lili Nur Aulia-

Blog pada WordPress.com.