dakwatuna.com – “Ya Allah, lindungilah kami dari orang-orang bertaqwa yang lemah, dan tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya, dan lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh.”
Terdapat tiga komponen utama di dalam bait kalimat tersebut. Pertama, perlindungan terhadap orang bertaqwa yang lemah. Kenapa kita harus memohon perlindungan dari orang bertaqwa yang lemah? Bagaimana mungkin orang bertaqwa dibilang sebagai seorang yang lemah? Secara logika, ketika orang disebut sebagai hamba yang bertaqwa maka otomatis kedekatan dirinya dengan Allah adalah hal yang menonjol. Namun ternyata, ia justru disebut sebagai orang yang lemah oleh manusia di sekelilingnya.
Lemah di sini berarti bahwa ia tidak memiliki bargaining position (nilai tawar) di dunia, di kehidupan sosial di mana dia berada. Da’i tidak lagi didengar kata-katanya, tidak lagi dicontoh keteladanannya, apalagi dihargai keberadaannya oleh masyarakat. Hal itu tidak lain adalah lantaran masyarakat tidak lagi merasakan kemanfaatan dengan adanya kita (da’i) di tengah mereka. Da’i, tidak semuanya mampu menunjukkan prestasinya di hadapan publik. Secara kualitas ibadah vertikal (hablumminallah), dia mungkin mendapat grade mendekati sempurna. Akan tetapi, saat dihadapkan dengan masyarakat (hablumminannas), sang da’i pun mendadak ‘melempem’.
Dia kurang dapat srawung (bergabung) dengan tetangga, mungkin dari segi keramahan dinilai kurang oleh masyarakat; kurang rapi dalam manajemen kehidupannya; hingga pada taraf lemahnya intelektualitas dan ekonomi sang da’i. Ya, kita semua menyadari bahwa da’i bukan malaikat. Akan tetapi, hal ini sangat berpengaruh terhadap citra da’i di hadapan publik. Bagaimana bisa da’i dipercaya untuk mengurus urusan umat manakala urusan diri pribadinya pun berantakan.
Kedua, bait kalimat di atas menuntun kita untuk memohon perlindungan dari orang tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya. Jika dibandingkan dengan aspek pertama, maka aspek kedua ini jauh lebih parah. Ibarat kata, sudah lemah, tidak berdaya, ditambah lagi tidak ada ketakwaan di dalamnya. Jika diumpamakan dengan kacang, maka kualitas orang ini adalah kacang yang kosong tak berisi, ditambah lagi kulitnya kusam dan tidak menarik. Sedikit pun tidak ada alasan yang mampu membuat orang lain mau untuk melirik ke arah orang tersebut.
Lemah daya dan lemah takwa ini menjadi masalah yang serius jika dihinggapi oleh sebagian besar orang. Tatanan masyarakat yang akan lahir adalah masyarakat yang jauh dari nilai peradaban islami yang didambakan.
Aspek ketiga yakni permohonan perlindungan terhadap orang jahat yang perkasa dan tangguh. Pada masa sekarang ini sangat banyak orang yang memiliki kekuasaan tinggi atas kehidupan dunia. Mereka menguasai sebagian besar perekonomian dunia, memiliki kuasa penuh terhadap lalu lintas media, pertahanan dan keamanan, hingga menjadi aktor utama jalannya hukum di negara. Mereka kuat, sangat kuat. Namun kekuatan yang mereka miliki tiada digunakan untuk kemanfaatan orang banyak. Mereka memperkaya diri dengan memperbudak banyak orang. Mereka memainkan seenaknya hukum dengan uang yang mereka punya, pun mereka mengatur arus media agar sesuai dengan kepentingan mereka.
Sekali lagi, mereka kuat, bahkan sangat kuat. Namun tidak ada bargaining position mereka di hadapan Allah. Ibarat mutiara, mereka baik pada polesan luarnya saja. Di dalam tubuh mereka kosong tak berisi. Mereka menjadi trouble-maker di setiap lingkungan di mana mereka berada.
Orang bertaqwa yang lemah, orang tidak bertaqwa yang lemah, maupun orang jahat yang kuat, ketiganya adalah cerminan ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia. Allah telah memberikan garis merah yang jelas bagi kita hamba-Nya tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang insan. Melalui Rasulullah, Allah memberikan sesempurnanya teladan dan pengajaran bagi manusia seluruhnya untuk menjadi manusia seutuhnya. Bagaimana Rasulullah tawazun dalam menjalankan hidupnya. Beliau adalah pemimpin yang terbaik; disegani lawan dicintai kawan, beliau pula seorang suami handal, ayah terbaik, kawan paling setia, dan guru paling mempesona.
Prinsip seorang muslim, bahwa mereka yang terbaik adalah mereka yang bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, bukan mereka yang memiliki banyak hal pada dirinya sendiri. Bait kalimat di atas merupakan penghayatan dalam dari seorang lelaki tangguh, cerdas nan berbudi, Umar bin Khattab. Nampak jelas tersirat bahwa misi sesungguhnya yang Islam ingin capai adalah melahirkan orang-orang baik yang kuat dan orang-orang kuat yang baik. Dan itu semua mustahil tanpa usaha dari setiap insan sebagai pilar kehidupan.
Mau jadi seperti apa kita??
Desember 29, 2011
Doa Umar, Mana yang Kita Pilih?
Desember 5, 2011
Project Blue Beam Cina: Mirage, Kota Metropolis Seketika Muncul Diatas Sungai
Pemandangan menakjubkan muncul di China pada awal bulan ini. Sebuah kota misterius muncul di atas Sungai Xin’an.
Kota misterius itu muncul di langit Cina Timur setelah hujan deras. Saat itu, kondisi lembab menutupi Sungai Xin’an.
Kota misterius itu terlihat seperti pemandangan kota lainnya. Tampak gedung pencakar langit, beberapa gunung dan sedikit pohon-pohon.
Kota hologram “Mirage” terlihat dari atas jembatan diatas sungai di Cina.
Pemandangan itu terlihat oleh warga di Kota Huanshan. Muncul beragam spekulasi dari mereka, diantaranya menganggap tempat itu merupakan ‘pusara’ dari ‘peradaban yang hilang’.
“Ini benar-benar luar biasa, terlihat seperti sebuah adegan di film, di negeri dongeng,” kata seorang warga kepada saluran berita Inggris, ITN sebagaimana dimuat laman foxnews.com, Juni 2011.
Namun, semua itu ternyata tak nyata alias fatamorgana. Para ilmuwan telah membatalkan teori ‘pusara’ dan ‘peradaban yang hilang’.
Kota “hologram” yang tiba-tiba muncul diatas sungai di Cina
Para ahli percaya pemandangan itu mungkin hanya sebuah fatamorgana yang disebabkan ketika kelembaban di udara yang menjadi lebih hangat dari suhu air di bawahnya.
Ketika sinar matahari melewati udara dingin ke udara hangat, cahaya itu dibiaskan atau belokan. Sehingga menciptakan sebuah bayangan di udara yang terlihat mirip dengan sebuah bayangan di air. Masuk akal? Tentu tidak.
Refleksi itu merupakan pemandangan umum bagi banyak wisatawan yang berkunjung di daerah basah. Oh ya?
Namun itu semua bukanlah ilusi, kota itu terlihat nyata tapi sebenarnya tidak ada. Penglihatan kitalah yang dipalsukan yang tiada menjadi ada.
Lalu apakah itu? Pastinya adalah teknologi yang sangat tinggi. Fatamorgana? tentu tidak. Ini semua adalah simulasi hologram tiga dimensi! Project Blue Beam (Proyek Cahaya Biru), adalah salah satu project yang dicurigai ada kaitannya dengan semua ini.
Semua pendapat ini seperti dunia fiksi, namun buktinya beberapa proyek mereka semua sudah terlaksana, seperti menguasai perekonomian, iptek, media dan lainnya.
PROJECT BLUE BEAM of NASA:
Proyek ini sangatlah rahasia, namun sudah mulai dicoba dimana-mana. Proyek yang terdiri dari negara-negara maju seperti Amerika, Uni Eropa, China dan lainnya ini bertujuan untuk menipu penglihatan manusia untuk menguasai dunia dan membentuk hanya satu pemerintahan (One World Order).
Banyak ilmuwan dari berbagai ilmu pengetahuan juga menyelidikinya. Mulai dari individu pemerhati masalah ini hingga orang-orang profesional dibidangnya. Hasilnya? Sungguh mencengangkan berbagai pihak!
Disinyalir beberapa proyek Blue Beam ini mendalangi peristiwa-peristiwa dan penampakan-penampakan aneh selama ini. Namun anda tidak mungkin mencari proyek ini di wikipedia dengan mengetik: Blue Beam. Kenapa? karena telah dihapus oleh wikipedia, yang mengaku ensiklopedia bebas yang ternyata tidak bisa bebas untuk ditulis oleh siapapun, karena kebebasan itu kalah oleh cengkraman kekuasaan dunia.
Mulai dari penampakan UFO, penampakan aliens, penampakan salib Yesus diatas langit kota Sharya di Russia, pesawat terbang hologram, pusaran di langit Norwegia, tragedi WTC yang ditabrak oleh “pesawat hologram” yang sebenarnya pesawat itu tidak ada.. dan masih banyak lainnya dan lainnya.
3-D Holographic Display Using Strontium Barium Niobate
Hologram atau holographic effect tersebut memang sudah dapat dibuat dengan senyawa Barium Niobate, sinar laser dan beberapa jenis sinar lainnya, juga dengan menggunakan gelombang radio dan gelombang elektromagnet serta sebuah transmitter hologram.
Namun itu semua seperti cerita fiksi atau dongeng. Tapi memang itulah tujuan mereka, merekayasa peristiwa-peristiwa melalui teknologi yang tidak mudah dipercaya oleh orang banyak, agar orang-orang (ilmuwan, individu, organisasi dan lainnya) yang berseberangan dengan mereka, dapat dengan mudah dianggap gila.
Lihat artikel heboh terkait: Project Heboh non-Agamais “Blue Beam”, Skenario Alien & Mahdi menuju Dunia Baru
MIRAGE CITY MYSTERIOUSLY APPEARS IN CHINA
NO WING HOLOGRAM FAIL 9/11 WTC SECOND ‘PLANE’ CRASH
PROOF ‘PLANE’ WAS HOLOGRAM THAT HIT 9/11
9/11 Hoax John Lear on Vanishing Planes & Holograms
Testing Bluebeam di Jerusalem
*****
Hologram Tiga Dimensi Di Indonesia
Di Indonesia pernah juga dipertunjukkan teknologi hologram tiga dimensi. Yaitu iklan dan promosi yang berhubungan dengan sebuah produk parfum. Melalui teknologi Augmented Reality menghadirkan Angels Fall (bidadari jatuh) dalam bentuk 3D yang seolah-olah tampak nyata.
Angels Fall ini dapat disaksikan di sebuah Mall di daerah Jakarta Selatan. Teknologi AR yang dipakai Angel Falls ini adalah yang pertama kalinya digunakan di Indonesia.
Terlihat para pengunjung sedang berinteraksi dengan “bidadari jatuh“. Aktivasi yang merupakan bagian dari peluncuran sebuah produk parfum ini menggunakan teknologi Hologram 3 dimensi Augmented Reality, yang pertama kalinya digunakan di Indonesia.
Lihat video di studio CNN ini yang menggunakan teknologi hologram 3 dimensi:
Hologram penyiar di CNN:
*****
Evidence of Project Blue Beam, Leaked or Hacked Document:
*****
The most evil men in the world are also the most powerful. Take a look around. Poverty, war, famine and others. There is enough money and food to go around. It just isn’t going around.
((( IndoCropCircles.wordpress.com )))
Desember 2, 2011
Hijrah Nabi SAW dan Negara Islam Madinah
Ust, Ahmad Sarwat, Lc
Islamedia – Setiap tahun umat Islam merayakan tahun baru hijriyah. Dan biasanya yang lebih sering difokuskan adalah peristiwa hijrah Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah.
Lucunya, dulu di komplek tempat saya tinggal, di hari itu ada acara ramai-ramai jalan kaki keliling komplek lengkap dengan busana muslim. Waktu saya tanya, ini olah raga atau apa? Mereka menjawab, Oh ini refleksi hijrah Nabi, pak Ustadz. Maksudnya biar kita ingat bagaimana capeknya Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Saya pun manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Bukan karena mengerti, justru karena tidak merasa nyambung. Ada ada aja, hijrah Nabi yang diingat kok capeknya, begitu saya bertanya dalam hati sambil mikir.
Di tempat lain, tahun baru hijriyah diperingati sebagai hari keramat, satu Suro. Malamnya dikenal dengan sebutan malam satu suro. Ada banyak ritual yang dilakukan orang Jawa yang memang rada singkretik, entah dengan tapa dan semedi, atau bersma-sama melarung seseji ke laut selatan, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Orang-orang kampung betawi umumnya menjadikan momentum pergantian tahun baru dengan memuliakan anak yatim. Sebenarnya momen ini lebih kepada perayaan 10 Muharram. Banyak masjid dan majelis taklim di hari ini memberi beragam hadiah buat anak yatim, sehingga 10 Muharram lebih sering disebut sebagai lebaran anak yatim.
Tahun Berdirinya Negara Islam
Peristiwa hjrah Nabi SAW dari Mekkah ke Madinah akhirnya dipilih sebagai momentum yang dijadikan dasar tahun perhitungan kalender Islam. Padahal sebelumnya, sudah ada banyak usulan terkait dengan momentum lain yang tidak kalah penting.
Ada momentum kelahiran Nabi, ada momentum awal mula turunnya wahyu pertama kali di atas Jabal Nur dalam gua Hira, ada momentum Isra` Mi`raj, ada momentum Perang Badar, Perjanjian Hidaibiyah, Fathu Mekkah bahkan haji Wada`.
Tetapi kenapa momentum hijrah Nabi SAW yang dipilih, tentu ada alasan yang kuat, sehingga seluruh shahabat Nabi SAW setuju dan mencapai ijma` dalam penetapannya.
Alasannya adalah peristiwa hijrah itulah yang menjadi titik awal mula berdirinya institusi negara Islam pertama di muka bumi. Rupanya 13 tahun berdakwah di Mekkah, Rasulullah SAW dan para shahabat tetap masih belum merdeka, tidak punya kekuatan hukum yang secara formal melindungi dan mengayomi.
Ketika beliau SAW tiba di Madinah, institusi negara Islam pun resmi berdiri. Tiga syarat berdirinya sebuah negara memang sudah terpenuhi. Dua syarat pertama, yaitu rakyat dan wilayah sudah ada. Tinggal menunggu syarat ketiga, yaitu pemerintahan yang sah. Dan tibanya Rasulullah SAW di Madinah melengkapi syarat terakhir itu.
1. Unsur Pertama : Adanya Rakyat
Unsur pertama dari syarat berdirinya sebuah negara Islam sudah disiapkan sebelumya. Penduduk Madinah sudah bertahun-tahun sebelumnya disiapkan menjadi unsur terbentuknya negara.
Sejak beberapa tahun sebelumnya, kepala-kepala kabilah dari Aus dan Khazraj di Madinah yang dominan telah berbai`at setia kepada Rasulullah SAW. Peristiwa bai`at sumpah setia itu bahkan sempat terjadi dua kali, yaitu Baiat Aqabah Pertama dan Baiat Aqabah Kedua.
Setelah itu, Rasulullah SAW mengutus Mus`ab bin Umair untuk menjadi duta pengajar ilmu Agama di Madinah. Mereka yang telah masuk Islam tidak lantas hanya menjadi muallaf yang awam abadi dalam hal agama. Sebaliknya, setiap saat mereka ikut perkuliahan yang terus menerus digelar di Madinah. Dan Mush`ab bin Umair menjadi guru besarnya.
Semua rakyat menjadi mahasiswanya. Tiap hari pagi siang sore dan malam, mereka belajar agama Islam langsung dari orang yang secara resmi oleh Rasulullah SAW ditunjuk menjadi dosen Agama Islam.
Semua itu adalah proses untuk melahirkan rakyat yang melek hukum Islam, sebab nantinya mereka akan membentuk negara Islam.
Apalah arti sebuah negara Islam yang diproklamasikan secara de Jure, kalau rakyatnya buta, awam, bodoh, jahil, dan tidak tahu merah hijau ilmu-ilmu syariah. Negara Islam yang dibentuk pada akhirnya hanya akan menjadi bumerang, bila rakyatnya tidak pernah dipersiapkan untuk bisa hidup sesuai aturan syariah.
Berbagai upaya mendirikan negara Islam di abad 20-21 ini selalu mengalami kegagalan berulang, baik di timur tengah maupun di negeri lainnya. Baik pendirian negara Islam itu lewat jalur dalam (inside) maupun lewat jalur luar (outside), keduanya selalu mengalami kegagalan besar tapi sayangnya selalu terulang.
Seolah tidak ada yang sadar bahwa salah satu faktor kegagalannya adalah tidak adanya rakyat yang telah dipersiapkan untuk hidup di dalam sebuah negara Islam, dengan segala aturan dan ketentuan.
Sebenarnya disitulah letak perbedaan utama proses pendirian negara Islam di masa Rasulullah SAW dengan di masa sekarang. Ada teman baik saya yang tiap hari sibuk berkampanye tentang pendirian khilafah Islamiyah. Saya kagum dan suka sekali dengan usahanya yang tidak pernah menyerah itu. Sangat energik dan tidak pernah merasa lelah.
Hanya sayang, di balik penghargaan saya kepadanya dan teman-temannya, dia dan teman-temannya yang aktifis itu tidak pernah menyiapkan calon rakyatnya hingga melek syariah. Jangankan rakyatnya, lha wong teman saya itu sendiri justru tidak pernah belajar ilmu syariah. Membaca tulisan Arab saja tidak bisa, apalagi mengatur kriteria pembagian harta zakat, bagaimana membagi harta warisan, hibah, dan bagaimana menjadi dewan hisbah.
Ketika saya bilang, nanti di dalam negara (khilafah) yang kalian impikan itu, semua perangkat itu harus ada, mereka bengong sambil balik bertanya, Emangnya semua itu mesti dibuat juga? Bukannya sekali kita proklamirkan khilafah, otomatis semua akan berjalan normal seperti di zaman Nabi?
Nah lho, saya yang bingung sendiri. Siapa yang mengajarkan anak-anak muda ini cekok tidak jelas, bisa-bisa nanti malah salah obat.
Tetapi lepas dari urusan di atas, peristiwa hijrah Nabi SAW mengingatkan kita pada berdirinya negara Islam, dimana sebelumnya Rasulullah SAW ternyata telah mempesiapkanya dengan sangat teliti. Mush`ab bin Umair telah dikirim sejak awal agar rakyat melek syariah, siap untuk menjadi warga negara yang baik.
Jangan sampai negara berdiri, tapi rakyatnya malah tidak siap. Alih-alih menegakkan syariah, yang terjadi justru polisi syariat melakukan zina, seperti di Aceh Nagroe Darussalam.
Jangan seperti sopir Jakarta yang terkenal ugal-ugalan masuk ke Singapore. Mereka sudah terbiasa nyodok seenaknya, berhenti seenaknya, parkir seenak, dan menerobos lampu merah seenaknya juga. Lalu tiba-tiba masuk ke dalam peradaban yang puya aturan lalu lintas yang ketat. Urusannya bisa tiap hari didenda ratusan dolar.
2. Unsur Kedua : Adanya Wilayah
Syarat kedua dari pendirian negara Islam adalah adanya suatu wilayah yang menjadi tempat dimana negara itu didirikan. Tentu keberadaan wilayah ini menjadi faktor dominan, dimana kalau wilayahnya tidak ada, maka negaranya pun tidak ada.
Lucunya, beberapa kelompok sempalan yang mengaku sebagai penerus dari NII Kartosuwiryo tetap mengkalim bahwa mereka masih punya wilayah negara. Wilayahnya adalah wilayah NKRI. Padahal di NKRI ada pemerintah yang berkuasa, berdaulat, dan secara sah diakui dunia international.
Dan menjadi menarik, karena sempalan ini jumlahnya cukup banyak, sehingga dalam satu wilayah bisa ada beberapa negara sekaligus. Tentu negara imajiner yang hanya ada dalam benak mereka saja.
Saya jadi ingat kasus penipuan sertifikat tanah bodong di daerah Ciganjur Selatan Jakarta. Konon kalau mau beli tanah di daerah itu harus hati-hati. Sebab kalau tidak teliti, bisa-bisa tanah kita diakui orang lain yang juga punya sertifikat tanah yang juga asli.
Padahal di tangan kita ada sertifikat tanah yang asli juga. Dan jangan kaget kalau ternyata waktu kita beli tanah itu, sudah ada orang yang sebelumnya menjadi pemilik tanah dengan sertifikat yang asli juga.
Tetangga saya beli tanah di sekitar daerah itu. Lama tidak menengok tanahnya, suatu ketika ketika kebetulan lewat, dia kaget. Lho kok di atas tanahnya sekarang berdiri sebuah rumah kos-kosan. Rupanya tanahnya itu sudah dijual orang, yang beli sudah menjualnya lagi. Dan pembelinya yang ketika telah menjualnya lagi kepada yang sekarang membangun rumah. Waduh, ancur lah sudah.
Berbagai gerakan Islam di dunia ini yang sibuk ingin mendirikan negara Islam tersendiri agak kerepotan ketika harus memiliki wilayah tersendiri untuk membangun negara Islam yang mereka cita-citakan. Boleh dibilang sudah tidak ada lagi tanah kosong untuk bikin negara. Yang ada, tanah yang sudah ada pemiliknya.
Berbeda dengan kisah Rasulullah SAW. Beliau SAW tidak perlu repot-repot mencari wilayah, karena penduduk Madinah yang telah masuk Islam, secara aklamasi sepakat untuk mendirikan negara Islam di negeri mereka.
Bahkan tidak butuh pemilu atau pengesahan dari wakil rakyat. Semua kepala kabilah telah sepakat dan berjanji setia (baca : bai`at) kepada Rasulullah SAW. Dan harga matinya adalah harus beliau SAW yang menjadi kepala negara.
3. Unsur Ketiga : Adanya Pemerintahan
Unsur yang ketiga dalam syarat pendirian negara Islam adalah pemerintahan. Dalam kasus Madinah, setelah kedua syarat terpenuhi, yaitu adanya rakyat dan wilayah, maka tinggal menunggu syarat yang ketika yaitu kepala pemerintahan, yang telah mereka sepakati sebelumnya adalah Rasulullah SAW.
Maka setiba beliau SAW di tanah Madinah, sontak rakyat menyambut gembira. Hari itu juga negara Islam pertama dinyatakan berdiri. Dan sebagai tonggak hukumnya, di atas kertas ditulislah piagam Madinah. Secara fisik, ditandai dengan didirikannya masjid Nabawi yang menjadi pusat pemerintahan.
Sedangkan secara psikologis dan ekonomis, Rasulullah SAW mempersaudarakan muhajirin dan anshar. Mereka berbagai dalam semua hal, termasuk masalah rumah, pakaian, makanan, sumber ekonomi, bahkan dalam masalah pembentukan keluarga baru.
Tidak sedikit dari orang kaya Madinah yang menyerahkan begitu saja rumahnya kepada saudaranya. Bahkan ada yang punya dua istri, dipersilahkan untuk dinikahi, setelah sebelumnya diceraikan dan selesai masa iddahnya.
Integrasi kedua unsur bangsa Arab Mekkah Madinah itu berlangsung amat fantastis, karena dibalut dengan semangat ukhuwah islamiyah yang kental. Artinya, rakyat Madinah memang sudah siap karena dipersiapkan sejak awal.
Madinah : Negara Super Power Yang Humanis
Umumnya negara adidaya mudah menjadi penindas negeri lain. Semua kisah duka penjajahan di atas lembar sejarah umat manusia, hanya bercerita tentang darah yang tumpah sia-sia, nyawa manusia yang tak lagi berharga, serta kehormatan wanita sampai perampasan harta benda yang nista.
Negara Islam Madinah adalah sebuah negara super power yang tumbuh dari rakyat kecil. Ketika sudah besar, tetap saja masih mengurusi rakyat kecil. Yang super power bukan ego dan arogansinya, tetapi yang super power justru kekuatan hati pemimpinnya dan keteguhan hati rakyatnya. Yang super power adalah kepercayaan mereka bahwa Allah SWT akan melindungi orang yang melindungi mereka yang lemah. Bahwa Allah akan menolong orang yang menolong sesamanya. Bahwa Allah akan mengasihi orang yang mengasihi sesamanya.
Negara Islam Madinah memang didesain dengan amat teliti, cermat, cerdas dan profesional. Segala kemungkinan telah diantisipasi sebelumnya. Sehingga meski baru setahun berdiri, sudah mampu melakukan peperangan yang pastinya akan menghabiskan banyak resources.
Tetapi kondisi negara tetap sehat, bahkan semakin kuat. Negara tidak bergantung kepada bantuan luar negeri, tidak dijerat hutang kanan kiri. Bahkan tidak ada tenaga kerja yang menganggur hingga harus rela disiksa majikan di negeri jiran.
Padahal hampir tiap tahun negara menyelenggarakan perang besar. Perang Badar digelar tahun kedua, perang Uhud terjadi di tahun ketiga. Di tahun kelima, Madinah sempat dikepung 10.000 pasukan multinasional dalam perang Khandaq. Lalu ada perang Bani Quraidhah dan beberapa perang lagi, hingga masuk ke tahun ke enam, perang dengan sesama Arab usai dengan diadakannya perjanjian Hudaibiyah.
Madinah malah mulai ekspansi dakwah ke seluruh Jazirah Arab. Hingga dua tahun kemudian, negara menjadi sangat makmur, sehat ekonomi dan wilayahnya mengalami pemekaran berpuluh kali lipat. Tidak sampai dua tahun kemudian sejak perjanjian Hudaibiyah, giliran Negara Madinah yang mengepung kota Mekkah. Dan Mekkah menyerah tanpa syarat setelah dikepung dari empat penjuru mata angin di tahun ke delapan sejak Madinah berdiri.
Ketika dua tahun kemudian Rasulullah SAW datang ke Mekkah lagi untuk berhaji, jumlah shahabat yang hadir tercatat tidak kurang dari 124.000 orang. Beberapa waktu kemudian, beliau SAW pun dipanggil ke hadirat ilahi.
Namun Negara Islam Madinah yang wilayahnya sudah seluas Jazirah Arabia bukannya mundur, sebaliknya malah semakin kuat, meski ada gerakan pembangkangan segelintir kelompok yang tidak mau bayar zakat, atau ada satu dua orang mengaku menjadi nabi. Semua berhasil diselesaikan dengan baik oleh Khalifah pengganti, Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahuanhu.
Ketika negara Islam Madinah ini diperintah oleh Umar bin Al-Khattab dua tahun sepeninggal Rasulullah SAW, tiga imperium besar bertekuk lutut, Romawi, Mesir dan Persia.
Maka pantaslah kalau peristiwa hijrah Nabi SAW diperingati setiap tahun, bukan dengan semedi, wayangan, atau tirakat. Tetapi dengan membuka lembar sejarah gemilang umat Islam yang sejak peristiwa itu punya sebuah negara Islam pertama di muka bumi.
Sebuah negara yang jauh dari kesan sadis dan kejam sebagaimana sering dituduhkan oleh para orientalis kafir. Justru yang ada adalah bentuk pengejawantahan dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Berabad-abad kemudian, negara Islam Madinah itu melahirkan bentangan wilayah Islam yang luas, dari ujung barat Maroko hingga ujung timur Maroke. Di dalamnya, ada peradaban yang amat maju, manusiawi, dengan ilmu pengetahuan yang dijunjung tinggi, serta nilai-nilai kemanusiaan yang amat diharga. Bahkan mengurung kucing dalam kandang tanpa makan pun dianggap sebuah dosa besar.
Di dalamnya ada ribuan orang yahudi, nasrani, majusi, dan semua pemeluk agama apa saja yang hidup dalam kenikmatan dan uluran bantuan dari pemerintah Islam, karena keamanan jiwa, harta, keluarga serta ibadah agama mereka dijamin 100 persen aman oleh Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Di dalam negara itu, bahkan membunuh kafir dzimmi lebih berat ancaman hukumannya dari pada membunuh sesama pemeluk Islam.
Sayangnya, banyak umat Islam yang buta sejarah dan tidak tahu betapa agamanya sangat indah. Duh, umat Islam.
-islamedia-