JUsT LeArN 'n LEaRn… fRoM Now On 'tiL ThE eNd..

November 5, 2008

Manusia akan menyelisihi jalan yang lurus kecuali..

Filed under: Uncategorized — Tag:, , , , — upikjoe @ 4:35 pm

Allah mengabarkan di dalam Al Qur’an, bahwa manusia akan menyelisihi jalan yang lurus kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Ta’ala,”…tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu…(Hud:118-119).

Tentang tafsir ayat ini Imam Ibnu Katsir berkata” Manusia akan selalu menyelisihi kebenaran, berkenaan dengan agama yang mereka peluk, keyakinan-keyakinan yang mereka yakini, madzhab-madzhab yang mereka anut, dan pendapat-pendapat yang mereka pegangi, kecuali orang-orang yang mendapat rahmat dari Allah. Yaitu orang-orang yang selalu mengikuti para Rasul Allah dan berpegang teguh dengan syari’at Allah. Mereka inilah orang-orang yang beruntung mendapatkanKebahagiaan dunia dan akherat karena mereka merupakan golongan yang selamat.”

-Wordpress ummuhanan08-

2 Komentar »

  1. Hendaknya kita ketahui bersama bahwa Rahmat Allah hanyalah bagi mereka yang tetap sabar dalam sebuah jama’ah walau bagaimanapun kondisinya, dimana mereka tidak pernah mencaci pemimpin mereka sebagai “orang kafir” atau bahkan berhadapan dengan golongan tersebut dengan acungan pedang yang terhunus, sehingga terputuslah tali silaturrahmi diantara mereka sekaligus sebagai moment terputusnya rahma dair Allah Swt. kepada mereka.

    Merekalah orang-orang yang bertanggung jawa atas perselisihan dan perbedaan yang ada saat ini, dan saat ini kondisi ini diperburuk oleh berkembangnya ilmu agama yang sebelumnya tidak pernah ada pada 3 masa keemasan islam.

    Memang ilmu itu kerguna bagi kebenaran, namun ketika ilmu itu dipergunakan untuk membantah sebuah kebenaran yang datangnya dari Allah Swt., maka kita akan mengenalnya sebagai Ilmu yang tidak berguna, bahkan lebih jauh ilmu itulah yang akan menjerumuskan seseorang kedalan jurang yang lebih dalam lagi.

    Umat Islam di Indonesia dan umat umat yang lainnya memang secara kasatmata memiliki ciri kesamaan dalam rukun Islamnya, namun demikian sesuai dengan maknanya Islam adalah selamat, maka dengan berpegang pada hadits perpecahan ummat, kita tidak dapat mengatakan bahwa setiap orang yang melakukan rukun Islam akan selamat semuanya.

    Jalan yang lurus, secara mudah dapat kita fahami sebagai jalan yang ditunjuki oleh Allah dan Rasulnya, maka selain itu adalah sesat dan menyesatkan, namun demikian dalam ketertipuan akan amal, ilmu dan keimanan, masing masing golongan dari ketujuh puluh dua golongan yang ada akan mengatakan bahwa Allah Swt. akan tetap memberikan mereka rahmaNya.

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Qs. Ali-‘Imran : 103)

    Berdasarkan ayat inilah kita akan mendapat pemahaman bahwa orang yang memisahkan dirinya dari Al-Jamaah untuk perama kalinya sebagai orang yang bertanggung jawab atas perselisihan dan perpecahan yang ada pada saat ini.

    Disadari atau tidak, kita yang terlahir saat ini adalah sebuah generasi yang mewarisi perselisihan dan perpecahan dimana orang tua kita sangat berperan dalam memberikan batasan-batasan mengenai kebenaran, sehingga kita akan melihat golongan selain dari golongan yang kita cintai sebagai golongan-golongan yang tidak akan selamat dari murka Allah Swt, dalam hal inilah Nabi Muhammad Saw. pernah memberikan peringatannya bahwa orang tua kitalah yang akan menjadikan kita sebagai orang yang bersifat ke Yahudi-yahudian, ke Nasrani-nasranian atau ke Majusi-majusian, bahkan pada haditsnya yang lain umat Islam akan mengikuti perbuatan-perbuatan mereka walaupun dalam hal meniduri ibunya sendiri bahkan bila mereka masuk kedalam lobang biawak sekalipun umat islam akan ikut-ikut memasukinya.

    Adapun sikap buruk yang paling buruk dan telah diikuti umat Islam adalah sikap dan perlakuan mereka terhadap Kitab Sucinya, yaitu dengan merobah-robah penafsiran dan pemahamannya dengan dalih ilmu tafsir, ilmu nahu atau ilmu-ilmu lainnya, sementara itu Nabi Muhammad Saw. pernah berpesan sebagai mana diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri bahwasannya beliau bersabda ,

    “Sesungguhnya aku telah mewariskan Al-Quran dan Sunnah Rasul kepadamu. Maka tafsirkanlah AL-Quran dengan berdasarkan sunnahku dan janganlah kamu berlaku sembrono!, Sesungguhnya, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya, niscaya mata hatimu tidak akan buta, kedua kakimu tidak akan tergelincir, dan kedua tanganmu tidak akan sia-sia untuk meraih keberuntungan”

    dan juga sabda Nabi lainnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasannya ia telah berkata, bahwa Rasulullah pernah bersabda,

    “Barang siapa ada yang menafsirkan Al-Quran tanpa didasari ilmu, maka diakhirat kelak ia layak untuk bertempat tinggal di dalam neraka”.
    (Buku:”Bagaimana Menjadi Ahli Fiqih” karangan Dr. Amir Said Az-Zibari,

    dan

    “Sesungguhnya aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang kepada keduanya, yaitu Al Quran dan Sunnah-ku.” [Shahih: HR. Al-Hakim (1/93) dan al-Baihaqi (X/114) dari Shahabat Abu Hurairah -rodliallohu anhu-. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih jamuis Shaghiir (no. 2937)
    Dalam hal inilah Allah berfirman :

    Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (Qs. An-Nur : 47)

    Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (Qs. An-Nisaa’ : 150-151)

    Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (Qs. An-Nur : 47)

    Dalam bahasan perselisihan dan perpecahan ummat, memberikan fatwa atas perkataan dan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran adalah sebuah syariat yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman sebagai pengamalan dari ayat-ayat yang membicarakan amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga sejarah akan senantiasa mencatat noda-noda hitam yang mewarnai umat ini, sehingga kekelaman itu telah menyelimuti kebenaran sehingga akan sulit bagi kita (awam) untuk dapat mengungkapkan kebenaran itu karena subhat-subhat yang disebarkan oleh-orang-orang yang telah sesat lebih dahulu.

    Mudah-mudahan para pembaca pada blog ini telah menemukan sebuah jalan yang dapat menghubungkan generasi kita kepada jalan-jalan yang pernah dilalui orang Rasulullah berserta para sahabat-sahabatnya sertaorang-orang yang tetap sabar dalam kondisinya untuk tetap melangkahkan kakinya diatas kebenaran yang haq dari tuhannya, dan bukan kebenaran semu yang dibenarkan akal namun menyelisihi Allah dan Rasulnya., amien.

    Bila kita telah merenungkan kondisi diatas, maka akan timbul satu pertanyaan, dimanakah Al-Jamaah itu berada dan bagai mana caranya untuk bergabung dengan mereka, atau apakah jarak dan waktu dapat melampauinya sehingga kita semua dapat duduk bergabung dengan mereka mereguk air dari telaga Nabi yang dikenal sebagai Al-Kautsar ???.

    NB. :
    Bila anda menyebutkan sebuah nama golongan, maka ragulah atas apa yang anda pulih itu, karena golongan tersebut hanya diberi julukan oleh Allah Swt. sebagai “Muslim”, Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu (Qs. Al-Hajj : 78)

    Bila kita mendengan sebuah ayat dibacakan maka cukup kita katakan : “Kami dengar dan kami taati.”

    Selamat bergabung,

    Komentar oleh Dedi Dorez — November 10, 2008 @ 7:58 am

  2. Maaf : (Ralat)
    “Merekalah orang-orang yang bertanggung jawa atas perselisihan dan perbedaan yang ada saat ini”, mereka disini adalah mereka yang pernah menggunakan kata “Kafir” kepada golongan tersebut atau pernah berperang dengannya atau sebab-sebab lainnya yang mungkin akan berdampak pada terputusnya tali silaturrahmi.

    Komentar oleh Dedi Dorez — November 10, 2008 @ 8:46 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: