JUsT LeArN 'n LEaRn… fRoM Now On 'tiL ThE eNd..

Desember 23, 2009

Memaknai se-“Kufu” dalam Pernikahan

Filed under: Uncategorized — upikjoe @ 1:44 pm

Dalam sebuah kesempatan, seorang ikhwan mengungkapkan kepada penulis tentang syarat yang diinginkan dari calon pendampingnya.

Terlontarlah kalimat,”Saya ingin pendamping yang se-kufu dengan saya”.

Agar tidak ada salah kaprah yang terjadi, rasa-rasanya penting bagi kita untuk mengkaji makna kufu’ ini dari pendapat jumhur ulama. Tulisan singkat ini mencoba memfasilitasinya walau sedikit.

***

Kufu’ berarti sama, sederajat, sepadan, atau sebanding.

Ibn Hazm berpendapat tidak ada ukuran-ukuran kufu’. Ia berkata “Semua orang Islam, asal saja tidak berzina, berhak menikah dengan semua wanita muslimah dan dengan syarat tidak tergolong perempuan penzina. Semua orang Islam adalah bersaudara. Kendatipun ia anak seorang hitam yang tidak dikenal, umpamanya, ia tidak dapat diharamkan menikah dengan anak Khalifah bani Hasyim.”

Firman Allah swt :
“Sesungguhnya, orang-orang mu’min itu bersaudara … “(Al Quran Al Kariim Surah Al Hujurat ayat 10)

Rasulullah saw pun menikahkan Zainab dengan Zaid, bekas budak beliau. Juga pernah pula beliau menikahkan Miqdad dengan Dhaba’ah binti Zubair bin Abdul Muthallib.

****

Segolongan ulama berpendapat bahwa persoalan kufu’ perlu diperhatikan, tetapi yang menjadi ukuran kufu’ ialah sikap hidup yang lurus dan sopan, bukan dengan ukuran keturunan, pekerjaan, kekayaan dan sebagainya.

Jadi, seorang lelaki yang shalih, walaupun keturunannya rendah, berhak menikah dengan wanita yang berstatus sosial tinggi, begitupun sebaliknya.

Akan tetapi, kalau lelakinya bukan dari golongan orang yang berbudi luhur dan jujur dalam hidupnya, dia tidaklah se-kufu’ bagi perempuan yang shalihah.

****

Jika kita rangkumkan pendapat-pendapat ahli agama, maka terurailah benang merah bahwa makna kufu’ hanyalah dari segi agamanya saja.

Dalam riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda :

“Wahai Bani Bayadhah, nikahkanlah perempuan-perempuanmu dengan Abu Hind dan nikahlah kamu dengan perempuan-perempuan Abu Hind”

Abu Hind adalah tukang bekam. Dalam kitab Ma’allim As Sunan dikatakan bahwa hadits ini dijadikan dasar oleh Imam Malik untuk menetapkan bahwa kufu’ adalah dari segi agama saja, tidak dari yang lain.

Ali bin Abi Thalib ketika ditanya tentang pernikahan se-kufu’ menjawab : “Semua manusia kufu’ satu dengan yang lainnya, baik Arab dengan Ajam, Quraisy dengan Hasyim, dengan syarat mereka sama-sama Islam dan beriman.

****

Jika kita tilik sirah Nabi dan Sahabat, banyak pula contoh yang bisa diambil.

Rasulullah saw pernah meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah, mantan pembantu beliau. Zainab sendiri berasal dari keturunan Quraisy dan anak perempuan bibi Nabi saw, Umaimah binti Abdul Muthallib.

Abu Hudzaifah menikahkan Salim, seorang bekas budak perempuan Anshar dengan Hindun binti Al Walid bin Utbah Rabi’ah.

Bilal bin Rabbah menikah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin Auf, sahabat yang dikenal sebagai seorang saudagar kaya raya.

****

Jadi sahabat-sahabatku sekalian, sungguh tidaklah persoalan kufu’ ini menjadi alasan menunda-nunda pernikahan.

Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada kita semua. Amin

Allahu ‘Alam bishawab

Bandung, 6 Muharram 1431 H

-Reza Ervan “Rumah ilmu Indonesia”-

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: