JUsT LeArN 'n LEaRn… fRoM Now On 'tiL ThE eNd..

Januari 6, 2010

Lima Kejadian Penting di 2009 Seputar Pluralisme

Filed under: Uncategorized — upikjoe @ 9:24 am

Berhubung pluralisme sedang menjadi bahan pembicaraan di seluruh media massa (meskipun saya ragu mereka paham), bersama ini saya kompilasikan beberapa kejadian penting seputar pluralisme di tahun 2009. Insya Allaah menjadi pelajaran bagi siapa pun yang ingin menarik pelajaran darinya.

Februari: Disertasi Abd. Moqsith Ghazali Dibukukan
Ketika Abd. Moqsith Ghazali dinyatakan lulus dari pendidikan pascasarjana S3 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, reaksi keras bermunculan. Sebutlah misalnya dari ust. Adian Husaini. Tokoh ini menganggap disertasi tersebut tidak layak lulus, apalagi dipublikasikan. Akan tetapi, kondisi memang sangat menguntungkan Moqsith, ditilik dari susunan pembimbing dan panitia pengujinya. Pembimbingnya adalah Nasaruddin Umar (Dirjen Bimas Islam yang sering bicara soal feminisme) dan Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta).

Kesamaan garis pemikiran juga terlihat jelas pada sebagian besar pengujinya, yaitu Azyumardi Azra, Kautsar Azhari Noer, Zainun Kamal, Mulyadhi Kartanegara, Suwito dan Salman Harun. Hanya yang terakhir inilah yang mengajukan kritik keras, bahkan secara tertulis. Menurutnya, Moqsith telah melakukan kesalahan fatal, antara lain keliru memahami penggalan buku Nawawi al-Jawi (1813-1899) dan tidak utuh mengutip pendapat Ibnu Katsir (1300-1373). Memang, ‘keliru’ atau ‘tidak utuh dalam mengutip’ bukan hal baru di kalangan pluralisme. Hal yang sama sudah dilakukan sebelumnya terhadap Buya Hamka.

Meski dengan segala kecacatan yang ada, disertasi tersebut dinyatakan layak dan Moqsith menerima gelar doktoralnya. Pada bulan Februari 2009, disertasi itu diterbitkan dengan judul Argumen Pluralisme Agama, Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an. Buku tersebut dicetak lux, dengan endorsement yang mencapai lima halaman, plus satu halaman cover belakang. Puji-pujian melambung tinggi datang dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan media (Goenawan Mohamad), Muhammadiyah (Haedar Nashir, Ahmad Syafii Maarif), WAHID Institute (Yenny Wahid), Ahmadiyah (Djohan Effendi), feminis (Siti Musdah Mulia), NU (Mustofa Bisri), dilengkapi dua petikan ulasan dari surat kabar Suara Pembaruan dan majalah GATRA. Bertebarnya puji-pujian semacam ini, menurut ust. Suhairy Ilyas (kakak ust. Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah), sebenarnya justru menumbuhkan kesombongan, dan sama sekali bukan tradisi Islam. Ditambah dengan posisinya yang diletakkan di depan (sebelum Kata Pengantar), semakin jelas terlihat bahwa fungsinya benar-benar hanya untuk kebutuhan marketing.

April: Pemilu, Hamid Basyaib dan Zuhairi Misrawi Caleg PDIP
Pada bulan April 2009, Pemilu legislatif dilaksanakan. Dari sekian banyak caleg yang bertarung, terdapat nama Hamid Basyaib dan Zuhairi Misrawi diantara caleg dari PDIP. Keduanya adalah tokoh muda Jaringan Islam Liberal (JIL), dan juga, tentunya, pengusung pluralisme.

Kejadian ini menandai titik awal infiltrasi kalangan pluralis secara langsung ke dalam parlemen. Tentunya tidak mengejutkan jika pada pemilu-pemilu selanjutnya kita menyaksikan agen-agen pluralis kembali mencoba merebut kursi di Senayan.

Mei: Fitnah Ilusi Negara Islam
Sekitar bulan Mei 2009, buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia beredar. Sempat beredar di beberapa toko buku, kemudian menghilang. Konon, ada yang mengancam para pemilik toko buku tersebut untuk tidak menjual buku Ilusi Negara Islam. Meski demikian, belakangan muncul pula bantahan dari para pemilik toko. Apa pun itu, buku ini tidak banyak dimiliki secara fisik.

Setelah itu, peredaran buku dilakukan secara online, sehingga orang bisa mengunduhnya secara gratis. Tapi bukan berarti masalah yang dihadapinya sudah selesai.

Setelah banyak orang membacanya, arus kemudian berbalik dengan cepat. Buku Ilusi Negara Islam dituduh sebagai biang pemecah-belah umat, sedangkan isinya tidak lebih dari fitnah semata. Salah satu fitnah yang paling mencolok adalah dihubung-hubungkannya gerakan Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Hizbut Tahrir; siapa pun yang mengetahui sejarah pergerakan Islam di Indonesia takkan membuat kesalahan semacam ini. Terakhir, orang-orang yang namanya disebut-sebut di dalam buku itu sebagai peneliti justru menyatakan lepas tangan, tidak pernah terlibat dan tidak mau bertanggung jawab atas isi buku tersebut. Dengan demikian, buku itu juga terbukti telah memfitnah para peneliti tersebut.

Oktober: Ulil vs. Forum Kiai Muda NU
Istilah “Ulil vs. Forum Kiai Muda (FKM) NU” sebenarnya kurang cocok, karena seolah-olah keduanya berada dalam posisi berimbang. Pada kenyataannya, pertarungan ini bagaikan Mike Tyson melawan anak sekolah. Dalam forum tabayyun yang dimoderatori oleh Kiai Abdurrahman Navis itu, FKM mendebat pemikiran-pemikiran pluralis Ulil Abshar-Abdalla. Dalam forum tersebut, Ulil sempat menyangkal pemikiran-pemikirannya sendiri. Untungnya, para peserta forum telah mempersiapkan diri dengan berbagai bahan tulisan Ulil, sehingga ia tak bisa berkelit lagi. Ketika terpojok, pada akhirnya Ulil hanya bisa berlindung di balik Gus Dur.

FKM NU kemudian merumuskan hasil dari forum debat tersebut, yang secara tegas menyatakan bahwa pemikiran-pemikiran Ulil banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan di kalangan NU. Secara spesifik, FKM menyebutkan JIL sebagai organisasi yang tidak sejalan dengan NU.

Desember: Gus Dur Wafat
Wafatnya Gus Dur ternyata telah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh sebagian kalangan untuk mempromosikan pluralisme habis-habisan. Gus Dur disanjung-sanjung sebagai Bapak Pluralisme, dan hendak dijadikan pahlawan karena sepanjang hidupnya telah memperjuangkan pluralisme. Padahal, semua pembahasan soal pluralisme lagi-lagi terbentur pada masalah pertama yang disinggung ust. Anis Malik Thoha dalam bukunya, yaitu: definisi. Baik yang mengusung pluralisme, yang menyebut-nyebut istilah “Bapak Pluralisme”, maupun media massa yang ikut-ikutan menggunakan istilah pluralisme, kemungkinan besar tidak tahu apa definisi pluralisme itu, atau tidak mampu mendefinisikannya.

Pengusungan Gus Dur sebagai pahlawan, bisa jadi, bukan untuk memuliakan Gus Dur itu sendiri, melainkan untuk mempromosikan pluralisme. Jika Gus Dur jadi pahlawan dengan subtitel “Bapak Pluralisme”, maka orang-orang akan menganggap pluralisme itu baik, dan menerima istilah tersebut secara taken for granted. Dalam hal ini, penting bagi kita untuk mengingat bahwa MUI telah tegas-tegas menyatakan pluralisme sebagai ideologi terlarang bagi umat Muslim.

Sumber:mp akmal

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: