JUsT LeArN 'n LEaRn… fRoM Now On 'tiL ThE eNd..

April 28, 2011

Membocorkan Rahasia, Sebuah Penghianatan

Filed under: Uncategorized — upikjoe @ 8:59 am

Saat itu Rasulullah dalam pengepungan Bani Quraidhah selama dua puluh satu hari karena mereka mengkhianati kaum Muslimin dalam Perang Ahzab atau Perang Khandak. Saat merasa tidak ada kesempatan memenangkan pertempuran karena dikepung berharihari, kaum Yahudi itu pun meminta berdamai dengan Rasulullah melalui utusannya. Mereka meminta untuk dikirimkan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, “Dia seorang sahabat karib kami. Dahulu, harta dan anakanaknya bersama kami.”
Rasulullah pun mengirim Abu Lubabah. Saat memasuki Benteng Bani Quraizhah, ia disambut anakanak dan isterinya yang menangis. Hatinya terpengaruh oleh kondisi itu. Begitu menemui para pemimpin Yahudi, ia ditanya, “Apa engkau menyetujui keputusan Muhammad?”
“Ya,” jawab Abu Lubabah serasa memberi isyarat dengan tangannya ke lehernya. Itu merupakan pertanda bahwa Rasulullah memutuskan akan membunuh seluruh pengkhianat Bani Quraidhah. Padahal hukuman untuk itu masih merupakan rahasia pasukan Islam.
“Demi Allah,” kata Abu Lubabah, seperti dicatat dalam Rijalun wa Nisa’un Anzalallhu Fihim Qur’ana, “Belum beranjak kedua kakiku dari tempatnya melainkan aku menyadari bahwa aku sudah mengkhianati Allah dan RasulNya.”
Abu Lubabah pun serta merta menyesali perbuatannya membocorkan rahasia pasukan Islam meski hanya dnegan isyarat tangan, ia pun bertaubat. Ia pergi ke Masjid Nabawi dan tidak menemui Rasulullah lagi. Ia mengikatkan badannya pada salah satu tiang masjid seraya berkata, “Aku tidak akan meninggalkan tempatku ini hingga Allah mengampuni apa yang telah aku perbuat. Dan aku bersumpah tidak akan pergi lagi ke perkampungan Bani Quraidhah. Dan aku tidak akan melihat negeri yang pernah aku berkhianat kepada Allah dan RasulNya untuk selamalamanya.”
Allah pun menurunkan ayat tentangnya dalam Surat Al Anfal, “Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanatamanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anakanakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Sesudah ayat itu turun, ia memperkeras ikatannya pada pilar Masjid, “Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati atau Allah mengampuni dosaku ini.”
Setelah tujuh hari tujuh malam ia tidak makan, ia pun tak sadarkan diri. Lalu Allah mengampuni Abu Lubabah saat Rasulullah berada di rumah Abu Salamah dengan menurunkan ayat ke 102 dari Surat At Taubah, “Dan (ada pula) orangorang lain yang mengakui dosadosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudahmudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.”
Dan hal itu disampaikan isteri Abu Salamah kepadanya, “Ya Aba Lubahah, bergembiralah. Allah telah mengampuni dosamu.”
“Tidak,” katanya, “Aku tidak akan membuka ikatanku hingga Rasulullah datang membukanya.”
Tidak lama setelah itu Rasulullah datang dan membuka ikatannya sebagai tanda bahwa beliau juga telah mengampuninya. Padahal sebelumnya Rasulullah telah mengampuni Abu Lubabah sebagaimana dicatat Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah, “Kalau dia datang menemuiku, tentu aku akan memohonkan ampunan kepadanya. Akan tetapi karena ia bertindak sendiri, maka aku tidak mungkin bisa melepaskannya dari tempatnya hingga Allah melepaskannya.”

=====
Berdasarkan hadits shahih dari Imam Ad Darimi dan Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsirnya.
Suatu hari, Hafshah meninggalkan rumahnya menuju kediaman ayahnya, Umar bin Khathab, untuk suatu keperluan. Maka rumah Hafshah menjadi kosong. Kemudian, Rasulullah membawa isteri beliau yang berasal dari Mesir, Mariyah binti Ibrahim Al Qibtiyah, ke dalam rumah Hafshah tersebut. Di dalam kediaman Hafshah ini, rasulullah mencampurinya sebagai suami isteri.
Dalam pendapat lain tentang kisah ini, diceritakan bahwa Mariyah Al Qibtiyah kebetulan lewat di depan rumah Hafshah bersama Ibrahim, dan Rasulullah memanggilnya masuk. Dalam pendapat yang lain lagi, dikhabarkan bahwa Mariyah sengaja mencari Rasulullah.
Setelah menyelesaikan keperluannya, Hafshah kembali ke rumahnya yang berada di deretan cluster milik isteriisteri Rasulullah. Tibatiba, di hadapannya, ia mendapati suaminya tercinta sedang bermesraan dan bercumbu dengan salah satu isterinya yang lain di biliknya itu. Maka timbul kemarahan dalam diri Hafshah. Sedangkan Mariyah segera keluar dari rumah Hafshah.
Ia berkata, “Engkau bawa dia masuk ke rumahku? Engkau bawa dia masuk ke rumahku? Padahal engkau tidak berbuat begitu terhadap isterimu yang lain? Engkau memandang rendah diriku?”
“Jangan engkau beritahukan hal ini kepada ‘Aisyah. Maka sekarang, saya haramkan ia (Mariyah) atasku.”
“Bagimana engkau haramkan ia atas dirimu? Padahal dia adalah isterimu,” kata Hafshah.
Rasulullah pun bersumpah, “Mulai sekarang aku tidak akan mendekati lagi kepadanya.”
Sesudah mengatakan sumpahnya itu, Rasulullah kembali berkata, “Jangan engkau ceritakan hal ini kepada siapa pun juga.”
Hafshah pun berjanji tidak akan mengabarkan hal itu kepada siapapun. Dengan kemarahan yang memuncak dan cemburunya yang sangat, ia mencoba menahan diri. Namun, akhirnya ia tidak tahan menahan apa yang ia rasakan. Maka, ia pun menceritakan hal itu kepada ‘Aisyah. Dan tak lama kemudian berita itu sampai kepada isteriisteri Rasulullah yang lain.
Atas peristiwa ini turun ayat tentang tahrim dan seterusnya, “Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafshah dan Aisyah) kepada Muhammad…”
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah kemudian menjatuhkan talaq kepada Hafshah pasca membocorkan rahasia diantara mereka kepada Aisyah. Namun kemudian Rasulullah merujuknya kembali setelah Jibril memberitahukan bahwa Hafshah adalah perempuan yang berpendirian teguh dan mempertahankannya, serta melihat Umar bin Khathab, ayah Hafshah, yang resah dengan perceraian itu.

-islamedia.web.id-

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: