JUsT LeArN 'n LEaRn… fRoM Now On 'tiL ThE eNd..

September 19, 2011

Islam, Antara Cita Dan Fakta

Filed under: Uncategorized — upikjoe @ 7:22 am

Oleh: Shalih Hasyim

BEBERAPA waktu yang lalu, saya membaca sebuah karya tulis ilmiah yang disusun oleh seorang intelektual Mesir Syeikh Muhammad Quthub. Beliau dilahirkan dari keluarga terdidik dan agamis. Rupanya, faktor keluarga yang mengantarkan beliau memiliki reputasi yang baik di dunia Islam. Dosen pasca sarjana di Universitas Ummul Qura’ itu pernah pula memperoleh hadiah nobel dunia Islam King Faishal Abdul Aziz atas karya spektakulernya setelah mengalami futur (stagnasi) dan berhasil mengkhatamkan al-Quran sebanyak 15 kali “Manhajut Tarbiyah Al-Islamiyyah Nadhariyyan Wa Tathbiqiyyan.”

Karya tulis beliau yang saya maksud berjudul “Hal Nahnu Muslimun?” (Muslimkah Kita?). Berbagai buku karangan beliau yang pernah saya baca menunjukkan bahwa beliau adalah akademisi inovatif, kreatif dan produktif, yang sangat peduli dengan nasib yang menimpa bangsanya. Beliau saudara kandung Sayid Quthub dan Hamidah Quthub.

Setelah saya bolak-balik buku tersebut, saya sedikit merenung dan lahirlah pertanyaan-pertanyaan sederhana yang cukup menggelitik, betapa berat dan strategisnya membangun citra diri sebagai muslim di tengah-tengah lingkungan social kita yang identik “sok sial”. Selanjutnya, saya bisa membuat kesimpulan yang agak mudah dipahami, sesungguhnya persepsi orang lain terhadap jati diri kita yang mewakili lingkungan strategis berbanding lurus dengan keberhasilan kita dalam membangun citra diri. Jika citra diri (gambaran mental) kita positif, orang lain mempersepsikan kita kurang lebih sama. Dan demikian pula sebaliknya.

Saya juga membaca buku komunikasi, psikologi, sejarah, sosiologi sebagai bahan perbandingan (muqaranah) dalam memperkuat kualitas komitmen (iltizam) keberagamaan saya. Menurut Stone (pakar psikologi social), sesungguhnya penampilan adalah fase transaksi social yang menegaskan identitas para partisan (pemeran-serta transaksi social tersebut). Penampilan itu, sebagaimana adanya, bisa dibedakan dengan wacana yang kita konseptualisasikan sebagai teks transaksi. Penampilan dan wacana adalah dua dimensi yang kontradiksi dari transaksi sosial.

Penampilan tampaknya bersifat lebih fundamental. Ia memungkinkan, menopang, menetapkan batas-batas, dan menyediakan ruang bagi (perwujudan) berbagai kemungkinan wacana dengan jalan memastikan kemungkinan-kemungkinan bagi diskusi yang bermakna. Satu amal lebih fasih dari seribu kata-kata (lisanul hal afshahu min lisanil maqal), meminjam sastra Arab.

Bila kita berjumpa dengan orang lain, kita segera mengkategorikan orang lain dalam satu kategori yang terdapat dalam laci memori kita. Kita akan secepatnya mengelompokkannya sebagai mahasiswa, cendikawan, petani, pedagang, atau kiai.

Kita menetapkan kategori orang itu berdasarkan deskripsi verbal, petunjuk proksemik, petunjuk kinestik, petunjuk wajah, petunjuk paralinguistic, dan petunjuk artifaktual.

Proyek Besar Peradaban Kita ?

Al-Hamdulillah wasy syukru lillah, hari ini kita kecipratan nikmat berislam. Berkat perjuangan air mata dan darah yang istiqamah dan tidak mengenal lelah pendahulu kita yang shalih (salafus shalih). Bahkan, kebanyakan mereka mengakhiri hidupnya di medan dakwah. Para wali-wali dahulu datang ke negeri ini, meninggalkan negeri dan tanah tumpah darah mereka mengarungi samudra yang tidak bertepi karena mereka yakin bahwa Islam ini adalah jalan kebenaran dan jalan keselamatan.

Di antara bukti faktualnya pada medan semantik membuktikan, kosa kata yang digunakan bangsa Indonesia adalah inhearent dengan term Islam. Islam yang datang ke Nusantara ini dengan cara damai dan mencerahkan (merubah cara pandang dengan metode yang sistematis) telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya bangsa (refleksi dari keyakinan yang dianut). Budaya senyum, sapa, supel, menghormati tamu, tepo sliro, toleran, tegas dalam prinsip, tahan uji dalam menghadapi ujian, paternalistik adalah turunan (derivasi) dari Islam.

Secara historis, Islam adalah ajaran terakhir yang menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya dan terbukti hingga kini masih steril dari berbagai penyimpangan tangan jahil manusia, maka pemeluknya berhak menyebarkan kebenaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Inilah konsekwensi sebagai umat terakhir dari penutup para nabi dan utusan Allah SWT.

Jadi, kewajiban jihad dakwah secara otomatis terpikul pada setiap individu muslim, dalam kedudukan apapun dan dimanapun dan kapanpun. Maka setelah kita berhasil mengirimkan para mujahid dakwah secara terjun bebas di seluruh pelosok nusantara, dilanjutkan ekspansi dakwah ke luar negeri. Ke depan perwakilan Hidayatullah di luar negeri hal yang niscaya. Sehingga kita mengembalikan ketaatan manusia hanya kepada pemilik kehidupan, Allah SWT.

Itulah sebabnya di pundak seorang muslim terpikul tanggungjkawab yang tidak ringan. Islam sudah memberikan mediator untuk mengadakan muhasabah yaumiyyah, usbu’iyah, syahriyyah, ‘amiyyah atau marrotan fil ‘umr (sekali seumur hidup), secara berkesinambungan dan radikal. Betulkah kehidupan kita secara individu, keluarga, masyarakat, baik aspek ideologi, sosial, kebudayaan, politik, keamanan merujuk keislaman yang sudah kita anut salama ini? Inilah proyek besar peradaban kita !. Menata ulang persepsi, perasaan, perilaku mereka agar selaras dengan referensi Islam itu sendiri.

Hanya saja, yang perlu menjadi catatan penting, bahwa pesan Islam tidak akan sampai kepada obyek dakwah hanya dengan ceramah-ceramah, makalah-makalah, seminar-seminar, orasi-orasi, diskusi-diskusi, diplomasi-diplomasi (katsratur riwayah). Justru, Islam sampai menerobos dinding-dinding pembatas teritorial dunia ini dengan akhlak/moralitas yang melekat dalam diri para muballigh itu sendiri. Akhlak yang mulia itu merupakan gambaran dari kekokohan iman/keyakinan.

وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُواْ بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انقَلَبُواْ إِلَى أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
فَلَمَّا رَجِعُوا إِلَى أَبِيهِمْ قَالُواْ يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak ada ketakutan dan kesedihan hati pada mereka. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (memelihara iman dengan akhlak) (QS. Yunus (10) : 62-63).”

Jadi, yang menjadi tantangan dakwah ke depan adalah bagaimana kita mendekatkan jarak diri kita dengan refrensi Islam itu sendiri. Setiap individu muslim adalah sebagai alat peraga dakwah. Kita dituntut menjadi al-Quran dan al-Hadits yang beroperasi secara kongkrit di jalan raya, pasar, gedung parlemen, lembaga pendidikan, tempat-tempat wisata, dan di tempat-tempat yang lain. Karena semua medan kehidupan menghajatkan untuk ditemani Islam, agar tidak membuat pemburunya kecewa. Terjangkiti oleh penyakit manusia modern, yaitu krisis makna.*

HARI ini kita menyaksikan sebuah fenomena yang menyedihkan, betapa keindahan dan kemuliaan Islam tidak menjadi magnit power (daya tarik) bagi lingkungan sosialnya? Mengapa Islam yang secara tekstual sebagai rahmat bagi seluruh alam dan ya’lu wa la yu’la ‘alaihi ini tidak dinantikan kehadirannya? Justru, Islam yang menyejukkan dan mencerahkan pikiran dan hati itu mendapatkan citra buruk (stigma negatif), menyimpan keshalihan ritual sekaligus criminal secara sosial?

Inilah sebuah pertanyaan yang memilukan hati kita sebagai seorang Muslim.
Kalau boleh menjawab dengan logika sederhana dan mudah, meminjam sebuah statemen seorang ‘alim dari Mesir, Syeikh Muhammad Abduh: “Al Islamu mahjubun bil muslimin” (keimuliaan Islam ditutupi oleh perilaku oknum orang Islam itu sendiri).

Saya yakin, pernyataan yang diucapkan 50 tahun yang silam itu tidak muncul secara spontan, tetapi melewati sebuah penelitian yang panjang. Bahwa, perilaku yang salah dalam berislam diakibatkan oleh pemahaman yang salah secara fatal tentang islam.

Kesalahan dalam memahami dinul Islam (agama Islam) berefek pada kesalahan krusial dalam mengkomunikasikan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya pernah mendengar cerita ekonom Islam, Dr Syafii Antonio di salah satu forum diskusi, bahwa ayah beliau siap masuk Islam dengan beberapa persyaratan, jika orang Islam berhenti dari sikap mental jorok, menghindari korupsi, sandal aman ketika pergi ke masjid, waktu haji berhenti dari berbicara pornografi (rafats) dan meninggalkan kebiasaan senang berdebat. Kebanyakan mereka masuk Islam sebelum menyaksikan perilaku pemeluknya. Kita yakin kesalahan krusial dalam membumikan Islam karena kesalahan fundamental dalam memahami subtansi Islam itu sendiri. Bukankah kita memiliki saham yang besar dalam menodai kemurnian ajaran Islam?

Ÿوَلاَ يُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلاَ كَبِيرَةً وَلاَ يَقْطَعُونَ وَادِياً إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah (9) : 121-122).

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan pada sesorang, maka ia memahamkannya dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bukankah hari ini kita menyaksikan orang yang menyatakan dirinya Nasrani yang jarang pergi ke gereja, orang islam setahun sekali ke masjid, orang Hindu yang sering absen di kuil, orang yang Yahudi yang tidak pernah menyentuh tempat ibadahnya Sinagog kecuali kepepet.

Lihatlah para ulama terdahulu sejak usia kanak-kanak sudah menghafalkan al-Quran dan isinya 30 juz. Sehingga al-Quran menjadi darah dagingnya.

Sekarang, marilah kita memotret kualitas keislaman umat Islam sekarang, bukankah hari ini kita menyaksikan orang Islam belajar islam setelah pensiun.

Bagaimana mungkin agama yang mulia ini diperjuangkan dari sisa umur dan sisa tenaga?

Pandangan yang sangat ironis belakangan ini, bukankah masjid yang semula dibangun untuk meningkatkan kualitas taqwa (ussisa littaqwa) beralih fungsi menjadi ajang kampanye kepentingan golongan tertentu. Terasa, kurang sakral lagi sebagai media untuk tawajjuh, tabattul dan taqarrub ilallah.

Kita khawatir dengan peringatan Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya, masajiduhum ‘amiratun faraghun minal huda (dilihat dari sisi bangunan masjid tersebut mentereng tapi kosong dari petunjuk). Kita tidak at home lagi untuk beribadah di dalamnya. Inilah tanda-tanda kiamat shughra.

Al-Quran Sebagai Manhaj

Jadi, al Quran diturunkan untuk diamalkan, bukan untuk menghiasi dinding-dinding tetapi untuk menghiasi kehidupan manusia secara lahir dan batin. Dengan mengamalkan isinya kehidupan manusia semakin hidup (yang bermakna), tidak sekedar hidup.

Al Quran diturunkan pula bukan untuk dibacakan kepada orang yang telah meninggal, tetapi meluruskan dan mencerahkan perjalanan kehidupan orang yang hidup. Al Quran diturunkan untuk mengatur manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke arah cahaya. Akan tetapi sayang sekali kita sebagai umat Islam, bertolak belakang dengan al Quran.

Kita adalah ummat yang dibimbing dengan spirit Surat Asy-Syura (musyawarah), tetapi kita tidak pandai melakukan musyawarah. Kita adalah ummat yang memiliki surat Al Hadid, tetapi kita tidak pandai membuat industri besi. Kita ummat yang didorong dengan perintah iqra (bacalah), tetapi kenyataannya ummat kita adalah bangsa yang paling bodoh dan terbelakang dalam hal ilmu pengetahuan.

Kita adalah ummat yang diintrodusir untuk mengembara mencari ilmu, sekalipun ke negeri China, tetapi kita adalah ummat yang sempit pandangan dan miskin wawasan. Kita adalah ummat yang diperintahkan bertebaran di muka bumi untuk mencari karunia yang disimpan di perutnya, tetapi kita adalah ummat yang tidak pandai berniaga. Bahkan, kita terpuruk secara ekonomi. Kita dimotivasi untuk memiliki kekuatan, tetapi kita terbelakang secara militer pada saat dunia memamerkan kekuatan militernya. Jika demikian keadaannya, betapa rendahnya kedudukan al-Quran di dalam hati kita?

Agar kita menjadi orang-orang yang berorientasi al-Quran, hendaklah al-Quran menjadi penuntun dan pemandu seluruh kehidupan kita (manhaj). Sehingga al-Quran merubah kehidupan kita sebagaimana isi al0Quran – yang kini di hadapan kita yang masih otentik dan orisinil, masih gadis, meminjam istilah Muhammad Abduh – telah merombak pola pikir dan sikap mental para sahabat secara totalitas.

Marilah kita perbaiki pemahaman dan kita luruskan sikap kita yang terlanjur bengkok terhadap kitab suci, dengan ta’wid (pembiasaan membaca sejak usia dini) tilawah yang benar, tasmi’, (mendengarkan dengan merenungi isinya) tafhim (memahami), ta’lim (mengajarkan kepada orang lain), tathbiq (mengamalkan), kemudian mengajak orang lain ke jalan al-Quran tersebut.

Inilah yang dimaksud al-Quran sebagai manhaj. Mendekatkan jarak antara idealitas dan realitas. Mensinergikan antara cita-cita dan fakta di lapangan. Antara tekstual dan kontekstual. Antara pemahaman secara literal dan menerjemahkan di ranah public. Memadukan antara kualitas keilmuan dan keterampilan mengamalkannya. Antara kemampuan menyerap kandungan isinya dan mendokumentasikan dan membahasakannya di benak publik.

Karena, fiqhusy Syariah memerlukan fann (seni) tersendiri dan mengkomunikasikan di lingkungan sosial memerlukan fann (seni) yang lain (fiqhud dakwah), demikian istilah Imam Syafii.

Jadi disamping kita dituntut memahami maddatud dakwah (materi dakwah), tidak kalah pentingnya adalah menguasai maidanud dakwah (obyek dakwah). Jika kita sudah berinteraksi dengan umat, mereka tidak mempertanyakan tentang wacana kita, tetapi apa yang bisa diperankan untuk memberikan pelayanan terhadap mereka.

Yakni menjadikannya tata acuan dalam berpikir, berprilaku dan rujukan tata kelola kehidupan secara infiradi dan jama’i. Kita mustahil mendakwakan al-Quran jika kita sendiri tidak memahaminya dengan benar dan memiliki pengalaman yang unik dalam mengamalkannya. Al Quran bisa menjadi pembelamu (hujjatun laka) atau saksimu yang memberatkan (hujjatun ‘alaika) di akhirat kelak, begitu kata Rasulullah SAW.

“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu ?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran Ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat[mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri] (QS. Al Araf (7) : 203-204).”

Untuk mengakhiri muhasabah usb’uiyah (intropeksi pekanan) pada momentum hari Jumat ini baiklah kita mengutip dua ayat firman Allah SWT dalam surat ash Shaf (61) dan Al Jumu’ah (62).

“Wahai orang-orang yang beriman ! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?. (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. Ash Shaf (61) : 2-3).”

Mudah-mudahan kita mampu menjadi individu dan umat terbaik (khoirul bariyyah) sepanjang zaman.*

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: