JUsT LeArN 'n LEaRn… fRoM Now On 'tiL ThE eNd..

Januari 12, 2012

Memiliki dan Menjadi

Filed under: Uncategorized — upikjoe @ 9:14 am

Oleh: Nur Cholis Huda

Pak Sugiharto membangun villa megah di lereng bukit. Pemandangannya indah dan udaranya segar. Di tempat lain masih punya dua villa lagi yang juga megah. Belum tentu dua bulan sekali Pak Sugiharto sempat menginap di salah satu villanya karena ia sangat sibuk. Praktis villa itu sepi sepanjang hari.

Pak Kromo sekeluarga, orang yang dibayar untuk menunggu villa itu justru yang menikmati kemegahan bangunan dan kesegaran udaranya. Tetapi meskipun Pak Sugiharto jarang sekali bisa menikmati villanya, bahkan mengeluarkan uang untuk orang yang menunggu, dia tetap puas dan bangga karena dia yang memiliki villa itu.

Mengapa tidak menyewa saja, kalau hanya sesekali memerlukan santai di luar kota? Menyewa mungkin lebih praktis dan hemat, tetapi tidak memberi kepuasan karena tidak ikut memiliki.

Di rumahnya ada delapan mobil. Anggota keluarganya hanya lima orang. Makaada mobil yang jarang terpakai yaitu mobil paling mahal. Mobil mahal itu dipakai hanya pada acara yang dianggap sangat penting dan prestisius. Meskipun jarang dipakai, namun perawatan dan pajak mobil mahal menghabiskan biaya paling banyak. Tetapi dia puas karena dia sebagai pemilik. Kepuasan terletak pada pemilikan, bukan pemanfaatan.

Sementara Pak Hasan petani tua, suatu hari menanam pohon asam dan mangga di kebonnya dekat jalan. Pohon itu dirawat dengan cermat. Seorang saudagar yang lewat merasa heran karena pohon itu perlu waktu bertahun-tahun baru memberi hasil, sementara usia Pak Hasan sudah lanjut.

“Saya sekarang sudah bau tanah. Ketika pohon itu besar dan berbuah, mungkin saya sudah lama meninggal. Tetapi pohon itu akan tetap bermanfaat. Orang yang lewat bisa berteduh, anak-anak bisa bermain sambil memanjat dan memetik buahnya,” kata Pak Hasan. Kepuasan Pak Hasan bukan karena memiliki tetapi karena dapat memberi.

Dalam hidup ini ada orang-orang yang puas karena dapat memiliki dan menguasai tetapi ada orang-orang yang menemukan kepuasan karena dapat memberi. Dua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari dua orientasi
hidup yang berbeda, yaitu orientasi “Memiliki” dan orientasi “Menjadi”.

Perbedaan

Erich Fromm (1900-1980), pemikir kenamaan kelahiran Jerman, mencoba memahami, membuat diagnosis, dan memberi terapi penyakit pada zamannya yang tengah mengalami krisis. Karyanya banyak, di antaranya bukunya “To Have or To Be” yang terbit tahun 1976. Dalam buku ini, Fromm menjelaskan panjang lebar dua macam orientasi manusia dalam memberi makna hidupnya, yaitu orientasi Memiliki dan Menjadi.

Ciri utama dari orientasi “Memiliki” ialah kecenderungan memperlakukan setiap orang dan setiap hal menjadi miliknya. Memiliki berarti menguasai dan memperlakukan sesuatu sebagai objek. Segala sesuatu dibendakan atau
diperlakukan seperti benda. Orang yang berorientasi “Memiliki” tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri karena tergantung pada simbul-simbul yang menjadi miliknya.

Ketika miliknya itu lepas dari genggamannya, ia merasa eksistensinya hilang. Orang yang mengandalkan mobilnya, rumah, kursi, popularitas, jabatan, dan lain-lain sebagai simbol keberadaannya, maka terus-menerus berusaha agar simbol-simbol itu tetap dimiliki. Sebab ketika semuanya lepas, maka keberadaannya menjadi hilang. Semakin banyak yang dimiliki, maka ia merasa kehadirannya semakin kukuh. Semakin sedikit yang dimiliki, semakin kurang rasa percaya diri.

“Masyarakat yang serakah merupakan basis modus “Memiliki” kata Fromm.

Orientasi hidup Memiliki (To Have) berbeda dengan orientasi Menjadi (To Be). Orientasi Menjadi mendorong orang melakukan aktivitas yang tumbuh dari dirinya sendiri dengan tujuan yang jelas serta membawa perubahan yang berguna secara sosial. “Modus Menjadi menuntut agar kita membuang egosentrisitas kita dan sikap mementingkan diri sendiri,” kata Fromm.

Orientasi Menjadi mengharuskan adanya kemauan memberi, membagi, dan berkorban.

Orang dengan orientasi Menjadi akan selalu melakukan aktivitas. Menurut Fromm harus dibedakan antara aktivitas dan kesibukan. Seorang tukang batu yang diupah untuk mengerjakan pos keamanan, dia melakukan kesibukan, tidak melakukan aktivitas. Sedang Pak Hasan, petani tua yang menanam pohon pada contoh di atas, dia melakukan aktivitas.

Tukang batu melakukan kegiatan karena digerakkan orang lain. Sedangkan keinginan Pak Hasan menanam pohon timbul dari kesadarannya sendiri, tidak disuruh orang lain. Motivasi itu yang membedakan aktivitas dan kesibukan.

Jika melihat sekuntum bunga harum semerbak, seorang yang berorientasi “Memiliki” akan memetik bunga itu untuk disimpan di kamarnya agar dia dapat menikmati keharumannya sepanjang waktu. Tetapi orang dengan orientasi Menjadi mungkin akan membiarkan bunga itu tumbuh, bahkan menyirami dan memelihara agar setiap orang yang lewat dapat menikmati keharuman baunya.

Bukan Pemilik

Orang yang berorientasi Memiliki jumlahnya cenderung sangat besar. Sedangkan yang berorientasi Menjadi jumlahnya kecil. Orientasi Menjadi serupa dengan apa yang disebut agama sebagai jalan mendaki, sedangkan orientasi Memiliki berarti jalan menurun.

Jalan mendaki adalah jalan pengorbanan dan memberi uluran pertolongan. Sedangkan jalan menurun adalah jalan mudah dan menyenangkan karena menuruti ego kita. Maka banyak orang memilih jalan menurun dan menghindari jalan mendaki.

Tetapi justru karena orientasi hidup Memiliki atau memilih jalan menurun,maka sering timbul krisis dalam banyak segi. Orientasi Memiliki, yang berarti memperlakukan segala sesuatu seperti benda dan ingin menguasainya, jika itu terjadi pada orang-orang “di atas”, maka krisis yang ditimbulkan akan meluas dan mencakup banyak dimensi.

Atmosfir kehidupan serba materi yang sangat kental dewasa ini mendorong kita lebih memanjakan egosentris kita, memupuk orientasi Memiliki, memperlakukan segala sesuatu seperti benda, lalu menguasainya.

Jika kita kembali pada ajaran agama, maka kita tidak memiliki apa-apa, karena sekadar hak pakai. Bahkan diri kita sendiri juga bukan milik kita.
Dalam kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”, sangat jelas bahwa kita dan apa yang ada pada diri kita bukan milik kita melainkan milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Karena itu orientasi hidup Memiliki sebenarnya tidak sesuai dengan kodrat kemanusiaan kita. Seharusnya kita memilih orientasi Menjadi, memilih jalan hidup Mendaki. “Carilah kebahagiaan dengan cara membahagiakan orang lain.
Carilah kesenangan dengan cara menyenangkan orang lain,” kata psikolog.

Yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita mencari kebahagiaan dengan cara mengobankan orang lain. Kita mewujudkan kesenangan dengan cara merugikan orang lain. Lebih celaka lagi, kalau kita baru merasa senang kalau orang lain menjadi korban.

Tentu tak mudah memastikan apakah suatu perbuatan itu menunjukkan orientasi Memiliki atau Menjadi. Kesulitannya karena manusia pandai berpura-pura,membungkus motif yang sesungguhnya.

Memberi bantuan bisa saja bukan benar-benar ingin menolong, tetapi ingin memperoleh sesuatu yang lebih besar. Mungkin ingin memperoleh nama baik disebut dermawan. Mungkin agar orang yang dibantu berada dalam pengaruhnya.
Mengajak damai ketika kondisi terpepet, boleh jadi karena ingin selamat, bukan karena cinta damai. Ketika keadaan sudah lapang, konflik akan disulut lagi. Manusia pandai berpura-pura.

Karena itu agama menegaskan bahwa senyum yang tulus jauh lebih berharga daripada memberi materi dengan maksud tersembunyi atau menyakiti.

Bangsa ini sudah capek dengan pertengkaran dan kekerasan. Itulah korban dari orientasi hidup Memiliki. Itulah hasil dari jalan menurun dan menghindari jalan mendaki.*

Penulis adalah Sekretaris Muhammadiyah Jawa Timur
-Blogspirit syahidfam-

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: